|

IKLAN BANNER

IKLAN BANNER
Jejak Cakap Digital & Jejak Kreasi

Adanya Larangan Truk Sumbu 3 Saat Momen Lebaran, Terjepinya Ekonomi Pekerja UMKM Makanan dan Minuman

Truk sumbu 3 saat melintasi jalan Tol, Cakung -Cikunir terlihat ramai dan lancar dalam situasi larangan truk sumbu 3 yang dapat mematikan dan terjepitnya ekonomi masyarakat yang sebagai pedagang makanan dan minuman, di Jakarta, 16/03/2026. Larangan ini berdampak langsung pada terhentinya aktivitas bongkar muat, yang mengakibatkan buruh angkut di sana kehilangan penghasilan harian selama kurun waktu tersebut. Foto : @Sonny/Tajuknews.com/tjk/03/2026.

TAJUKNEWS.COM/ Jakarta. - Kebijakan pelarangan operasional truk sumbu 3 atau lebih selama momen Lebaran yang berlangsung 13-29 Maret 2026 mengancam kehidupan ekonomi buruh lepas di gudang-gudang produk makanan dan minuman. Larangan ini berdampak langsung pada terhentinya aktivitas bongkar muat, yang mengakibatkan buruh angkut di sana kehilangan penghasilan harian selama kurun waktu tersebut.

 

Muka-muka sedih dan lesu pun terlihat di wajah para buruh lepas yang sehari-harinya bekerja di sebuah gudang produk makanan dan minuman yang ada di wilayah Citeureup, Kabupaten Bogor, begitu mendengar Pemerintah melarang operasional truk sumbu 3 selama 17 hari momen Lebaran. Mereka merasa keinginan untuk bisa memberikan uang lebih kepada keluarga seakan pupus dengan hadirnya kebijakan tersebut. Karena memang, truk-truk sumbu 3 itu paling banyak masuk ke gudang produk makanan dan minuman tempat mereka bekerja selama ini. 


Ruhiyat Sukmana, salah satu buruh lepas di gudang produk makanan dan minuman itu mengatakan penghasilannya sangat bergantung pada sistem upah harian dari jumlah barang yang dibongkar dari truk-truk yang masuk ke gudang. Menurut Ruhiat, yang biasa dipanggil Adek oleh teman-teman sekerjanya, truk-truk produk makanan dan minuman yang paling banyak masuk ke gudang itu adalah truk-truk besar atau sumbu 3 ke atas. “Jadi, kalau truk-truk itu dilarang beroperasi, jelas kami buruh lepas di gudang ini terancam kehilangan pendapatan. Karena, pasti tidak ada lagi aktivitas pengiriman barang di gudang ini,” ujarnya dengan menunjukkan wajah penuh kebingungan.


Ayah dua anak yang masih menumpang di rumah orangtuanya ini pun mengaku bingung harus mengatakan apa kepada anak-anak dan istrinya jika kebijakan Pemerintah ini tetap dijalankan. Apalagi, menurutnya, ini saat menjelang Lebaran di mana keluarganya pasti sangat mengharapkan uang lebih dari dia. “Yang pasti, saya bingung dan sedih, bagaimana melihat nasib anak-anak dan istri yang justru berharap saya mendapatkan uang lebih menjelang Lebaran ini. Mereka pasti kecewa dan istri saya pasti menangis saat mendengar bahwa saya tidak bisa lagi bekerja karena Pemerintah melarang truk-truk sumbu 3 ini beroperasi,” tuturnya.


Dia pun bercerita bagaimana harus mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya ini. Sebagai buruh angkut barang di gudang produk makanan dan minuman, dia bersama kawan-kawannya yang lain harus sabar menunggu truk-truk yang masuk di sebuah pos kecil yang memang disediakan pemilik gudang untuk mereka. “Kita di sini sebagai pekerja borongan. Dalam kondisi normal saja, kita masih kesulitan. Kadang-kadang kita menunggu sampai lama baru truk datang. Dan kita dibayar sesuai dengan volume truk yang kita bongkar muat. Jadi, kalau tidak ada nanti truk-truk yang masuk ke sini, kami mau makan apa karena pasti tidak dapat uang lagi,” tuturnya. 


Menurut Adek, keberadaan gudang produk makanan dan minuman di daerah Citeureup ini sangat membantu masyarakat sekitar. Dia sendiri jadi bisa bekerja, dan dari pekerjaannya ini bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 500 – 700 ribu per minggu. Tapi, katanya, itu juga kalau setiap hari kerja. “Sedihnya kalau kita sakit dan tidak bisa kerja. Kita bingung untuk biaya sehari-hari. Apalagi apa-apa sekarang ini mahal. Belum untuk sekolah anak. Jadi, kalau kami tidak bisa bekerja selama berhari-hari, itu sama saja artinya membiarkan keluarga kami kelaparan,” tukasnya.

 

Karenanya, sebagai seorang kepala keluarga, dia berharap agar Pemerintah tidak hanya melihat masyarakat yang ingin mudik Lebaran saja, tapi juga nasib ekonomi mereka yang sangat bergantung kepada operasional truk-truk sumbu 3. “Kalau bisa jangan lama-lama distop. Sebab, kami para pekerja lepas di pergudangan ini juga ingin bekerja buat anak-anak dan istri kami. Kami juga ingin membahagiakan hidup mereka seperti yang lain. Tapi, kalau kami tidak bisa bekerja, bagaimana kami bisa mewujudkannya,” ucapnya.


Hal senada disampaikan Rustyawan yang juga bekerja di gudang yang sama. Dia juga mengatakan kebijakan pelarangan terhadap truk sumbu 3 ini sangat berdampak terhadap ekonomi keluarganya yang hanya berasal dari penghasilannya sebagai buruh lepas. “Itu sangat berdampak sekali ke perekonomian kita yang kerja hanya harian lepas atau borongan. Karena kita berpenghasilan berdasarkan volume truk yang datang. Kalau truk tidak datang kita tidak ada penghasilan,” ujarnya seraya mempertanyakan keadilan Pemerintah terhadap buruh lepas seperti dirinya.


Dia mengatakan dengan dilarangkan truk-truk sumbu 3 ini beroperasi, otomatis semua buruh lepas yang bekerja di gudang produk makanan dan minuman tempatnya bekerja menjadi pengangguran. “Kami juga kan seorang kepala keluarga yang harus bertanggung jawab memberi nafkah keluarga. Apalagi, kalau truk-truk itu tidak diizinkan beroperasi sampai 17 hari, itu benar-benar kelewatan menurut saya,” kata ayah dua anak yang terlihat sedikit kecewa dengan kebijakan tersebut. 


Padahal, dia selalu berharap agar bisa setiap hari mendapatkan orderan. Meskipun dalam kondisi sakit, menurutnya, terkadang dia juga memaksakan untuk bisa tetap bekerja demi untuk membiayai kebutuhan hidup anak-anak dan istrinya. Dengan bekerja setiap hari saja, hasil yang saya dapat cuma bisa untuk membayar listrik, bayar sekolah anak, ongkos anak, dan buat makan sehari-hari. Apalagi kalau sampai berhari-hari tidak bekerja, ini membuat saya bingung bagaimana nasib keluarga saya nanti. Apa itu juga dipikirkan Pemerintah terkait nasib kami,” tandasnya.


Karenanya, dia juga berharap agar Pemerintah mau memikirkan kembali kebijakannya untuk menghentikan operasional truk sumbu 3 itu. “Coba pikirkanlah para pekerja-pekerja yang borongan, harian lepas, yang kalau ada kerjaan dibayar, nggak ada kerjaan nggak dibayar seperti kami ini. Kami berharap truk-truk itu bisa masuk ke gudang kami. Karena penghasilan kami hanya dari truk-truk itu. Satu hari kehilangan kerjaan saja kami sudah pusing, apalagi kalau sampai berhari-hari,” pintanya dengan nada memelas.


@Sonny/Tajuknews.com/tjk/03/2026.

#OperasionalTrukSumbu3 #MomenLebaran #AktivitasBongkarMuat

Komentar

Berita Terkini