TAJUKNEWS.COM/ Jakarta. - Dampak kebakaran hutan tidak hanya terasa langsung ketika api masih berkobar. Setelah api padam, asap kebakaran hutan masih dapat menyebar dan menimbulkan bahaya bagi orang-orang yang tinggal di sekitar wilayah bencana.
Bahayanya mungkin tidak tampak secara kasat mata. Padahal, berbagai bahan yang terkandung di dalam asap kebakaran hutan dapat menimbulkan dampak bagi sistem pernapasan manusia maupun gangguan kesehatan lain.
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) tepatnya di wilayah esa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, memasuki hari keempat penanganan pada hari Sabtu, 24/10/2026.
Di tengah upaya pemadaman, Kuncun Sumur Tujuh Cikajayaan, Abah Otong , " mengungkapkan bahwa dirinya kerap melihat kijang turun dari kawasan hutan menuju pemukiman warga sebelum terjadi peristiwa besar di wilayah tersebut.
Semua jenis asap bisa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, terutama bila terhirup namun, asap kebakaran hutan memiliki bahaya yang jauh lebih besar karena kandungan berbagai zat kimia berbahaya di dalamnya.
Kebanyakan zat kimia pada asap kebakaran hutan berasal dari pepohonan, bangunan, kendaraan, fasilitas industri, dan permukiman di sekitar hutan.
"Menurut Abah Otong, kemunculan kijang atau rusa disekitar destinasi wisata religi Sumur tujuh bukanlah hal yang baru. Ia mengaku beberapa kali melihat satwa tersebut mendekati kawasan permukiman, terutama menjelang kejadian yang dianggap penting oleh masyarakat setempat,"Ujar Otong.
Dalam pandangan Abah Otong pengamatan dan penafsirannya Abah, bukan bukti bahwa satwa dapat memprediksi terjadinya bencana. Abah Otong menilai kemunculan satwa liar itu menjadi mengingat warga untuk lebih memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar Gunung Ciremai, " Ungkapnya.
@Sonny/Tajuknews.com/tjk/10/2026.
