|

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, "Tercatat Sebanyak 28,8% Warganya Menderita Kurang Gizi"

 
Berdasarkan Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, tercatat ada sebanyak 28,8 persen warganya menderita kurang gizi, Tanggerang, 16/07/2020.
Stunting ini masih dianggap biasa, padahal ini berdampak pada pertumbuhan anak, masyarakat harus tahu masalah stunting supaya bisa diminimalisir keberadaannya. @Sonny/Tajuknews.com/07/2020.


TAJUKNEWS.COM, Jakarta. - Sebagai daerah penyangga ibukota, perkembangan pembangunan di Tanggerang cukup masif. Infrastruktur yang menjadi parameter masyarakat, dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh sangat signifikan.
Tangerang bahkan menjadi kota terbesar ketiga di Jabodetabek yang memiliki infrastuktur yang mendukung terciptanya sebuah kawasan hunian yang nyaman. 
Sayangnya, berbanding terbalik dengan geliat pertumbuhan infrastruktur, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Tangerang yang menjadi indikator keberhasilan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat terbilang rendah. 
"Stunting ini masih dianggap biasa, padahal ini berdampak pada pertumbuhan anak, masyarakat harus tahu masalah stunting supaya bisa diminimalisir keberadaannya," ujar Ahmed Zaki, Kamis (16/7/2020).

Ahmed Zaki Iskandar mengakui masih banyak anak-anak yang mengalami stunting atau masalah kurang gizi di wilayahnya. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, tercatat ada sebanyak 28,8 persen warganya menderita kurang gizi.
 
Berdasarkan Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, tercatat ada sebanyak 28,8 persen warganya menderita kurang gizi, Tanggerang, 16/07/2020.
Stunting ini masih dianggap biasa, padahal ini berdampak pada pertumbuhan anak, masyarakat harus tahu masalah stunting supaya bisa diminimalisir keberadaannya. @Sonny/Tajuknews.com/07/2020.

 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Kota Tangerang sebesar 77,01 masuk urutan ke-53 IPM kota atau kabupaten se-Indonesia. Sementara Kabupaten Tangerang dengan IPM 70,97 berada pada urutan 145, dari total 514 kabupaten atau kota di Indonesia.
Jika dirunut, salah satu faktor penentu tinggi rendahnya IPM adalah kecukupan gizi anak di masa 1.000 HPK. Artinya, kecukupan gizi anak sejak dalam masa kandungan hingga berusia dua tahun, akan menentukan kualitas anak di masa depan.


Aktivis kesehatan anak, Yuli Supriati mengatakan, di beberapa daerah, stunting masih belum menjadi kekhawatiran masyarakat. Calon ibu masih banyak yang tidak teredukasi mengenai stunting. Masyarakat tidak paham apa itu stunting, apa penyebabnya, seperti apa tanda-tandanya dan apa yang harus dilakukan.

"Saya menemukan, beberapa anak dengan usia 2 tahun, berat badannya hanya 2 kg, tapi orang tuanya masih ngotot anaknya baik-baik saja,” jelas Yuli.

Disebutkan Yuli, dalam kunjungannya ke Puskesmas Tigaraksa Tangerang beberapa waktu lalu, dia mendapati sebanyak 36 anak usia dibawah 5 tahun berada dalam status gizi kurang. Sebanyak 21 anak diantaranya berada pada rentang usia 1 – 2 tahun.

Di desa Cileleus, Tigaraksa Tangerang, Yuli bertemu Mutia dan Tegar, dua balita penerima program pemberian makanan tambahan (PMT) dari Puskesmas Tigaraksa. Mutia dan Tegar berusia 2 tahun, dengan berat badan yang hanya 7 kg. Padahal, untuk anak normal, di usia 2 tahun seharusnya memiliki berat badan 14 kg untuk perempuan dan 15 kg untuk laki-laki.

“Pas bayinya mah dikasih ASI, tapi kan bapak ibunya kerja, anaknya dirawat saya. Kalau pas lagi ada (uang), dibeliin susu kaleng, sering juga diutangin di agen,” ujar Amah, nenek yang merawat Mutia.

Susu kaleng yang dimaksud Amah adalah kental manis. Amah sendiri sudah tak mengingat sejak kapan cucunya mengkonsumsi susu kental manis sebagai asupan nutrisi. Dalam sehari, Mutia bisa mengkonsumsi 3 – 4 gelas susu kental manis.


Dalam sehari, Tegar pun bisa minum kental manis 3 - 4 kali dalam sehari. Saat Yuli menjelaskan mengenai kandungan kental manis bahwa kental manis bukanlah minuman susu untuk anak, keluarga Mutia dan Tegar kompak menjawab tidak tahu. 
Menurut mereka, kental manis adalah susu seperti yang diiklankan melalui televisi, rasanya manis disukai anak dan harganya terjangkau. Mirisnya, asupan yang salah itu tidak hanya dialami Mutia dan Tegar.

"Ada banyak anak-anak lain yang bernasib sekadar kenyang, tanpa mereka tahu bahwa yang mereka makan dapat menjadi racun bagi tubuh mereka kelak," Pungkas Yuli Supriati. 

@Sonny/Tajuknews.com/tjk/07/2020.
Komentar

Berita Terkini