|

Investasi Pada Teknologi dan SDM Menjadi Hal Krusial Demi Keberlanjutan di Indonesia

 Arif Mujahidin, Communication Director Danone Indonesia, dalam CEO Live Series, Senin, (15/11/2021) di Jakarta.  Danone Indonesia memiliki satu slogan unik yang menggambarkan betapa pentingnya keberlanjutan bagi Danone Indonesia, yakni One Planet, One Health. @Sonny/Tajuknews.com/tjk/11/2021.


TAJUKNEWS.COM, Jakarta. -  Isu keberlanjutan menjadi isu yang krusial dan teramat penting dewasa ini. Bagi sebagian kalangan, keberlanjutan bahkan menjadi an endless issue yang terus mendapat perhatian dan pengelolaan dari waktu ke waktu. 


Bagi dunia usaha, isu mengenai keberlanjutan menjadi bukan hanya menciptakan proses bisnis yang memastikan keberlanjutan lingkungan, baik lingkungan alam maupun sosial, tetapi juga sekaligus merupakan bagian dari memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan itu sendiri.


Demikian yang disampaikan oleh Arif Mujahidin, Communication Director Danone Indonesia, dalam CEO Live Series, Senin, (15/11/2021) di Jakarta. 


Arif mengatakan, Danone Indonesia memiliki satu slogan unik yang menggambarkan betapa pentingnya keberlanjutan bagi Danone Indonesia, yakni One Planet, One Health. 


“Kita hanya punya satu planet, dan kita hanya hidup di bumi ini satu kali. Sehingga apa pun yang dilakukan, kita tidak boleh melakukan sesuatu yang merusak planet dan merusak kesehatan. Jadi antara human health dan planet health itu sangat interconnected,” ucap Arif.


Arif melanjutkan, inisiatif-insiatif yang dilakukan Danone Indonesia, selain juga menempatkan lingkungan alam sebagai bagian yang penting, juga menempatkan manusia sebagai sesuatu yang tak kalah penting. 


“Prinsip sustainability ini diimplementasikan di semua tempat. Di market place, di work place, hingga di environment. Danone Indonesia memastikan bahwa walaupun tujuan utama Danone Indonesia memproduksi produk kesehatan manusia, namun dalam proses produksinya tidak boleh merusak planet. Demikian juga ke masyarakat. Kita tidak akan bisa menjual produk bila daya beli masyarakat kita rendah. Atau kita juga tidak bisa mengantarkan produk bila lingkungan tidak baik. Semua saling terkait. Oleh karena itu apa pun yang dilakukan Danone Indonesia adalah memastikan operasi kita dari hulu ke hilir tidak merusak planet,” papar Arif.


Berangkat dari pemahaman tersebut, Arif menilai pada hakikatnya sustainbility bagi dunia usaha bukan hanya berarti menjaga keberlangsungan lingkungan dan masyarakat sekitar. Tapi yang juga tak kalah penting ialah sebenarnya bertujuan untuk menjaga perusahaan tersebut tetap dapat beroperasi dan sustain.


Terkait kesehatan manusia yang juga menjadi perhatian Danone Indonesia, Arif mengatakan itu tak lain karena kesehatan manusia sangat penting dan terkait dengan banyak hal. 


“Kita lihat pada pandemi ini, misalnya. Dimulai dari krisis kesehatan, akhirnya bisa menjalar menjadi krisis di mana-mana. Selama pandemi Danone Indonesia tetap berproduksi karena termasuk dalam produk esensial. Namun ini bukan sesuatu yang mudah. Dua tahun terakhir situasi juga sangat penuh ketidakpastian. Tapi kami percaya, jika diselesaikan bersama-sama, kita akan melewati ini semua. Kami ikut membantu dengan apa yang bisa kami lakukan, mendukung prasarana kesehatan, vaksinasi. Saat kini Indonesia mulai pulih, sangat terasa sekali di perusahaan. Produktivitas meningkat, kegiatan bisnis mulai terasa. Itu indikator yang sangat jelas bahwa kita tidak bisa berdiri sendiri. Sustainability sangat interconnected dan membutuhkan kolaborasi. Perusahaan yang baik kalau dulu hanya memikirkan shareholder, kini yang dipikirkan ialah stakeholders, pemangku kepentingan yang lebih luas, termasuk konsumen, masyarakat, regulator, dan lain-lain,” ujar Arif.


Arif Mujahidin, Communication Director Danone Indonesia, dalam CEO Live Series, Senin, (15/11/2021) di Jakarta.  Danone Indonesia memiliki satu slogan unik yang menggambarkan betapa pentingnya keberlanjutan bagi Danone Indonesia, yakni One Planet, One Health. @Sonny/Tajuknews.com/tjk/11/2021.


Pemaparan yang disampaikan pihak Danone Indonesia mengenai sustainability action disambut baik oleh Ketua Tim Ahli Kementerian Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi.


Terkait sustainability, Bayu mengatakan setiap industri tentu memiliki standardisasinya sendiri-sendiri. Standar-standar dan praktik terbaik masing-masing industri ini sangat diharapkan tercipta melalui voluntary based dari industri. 


“Karena standardisasi untuk sawit jelas berbeda dengan listrik, beda dengan migas. Salah satu yang jadi semangat Sustainable Development Goals (SDGs) ini bukan regulasi. Yang ditetapkan itu tujuan, caranya kembali ke pelaku industri sesuai dengan karakteristik masing-masing industri,” paparnya.


Pemerintah sendiri, menurut Bayu, bisa dilihat melalui regulasi-regulasi yang ada. Setidaknya ada dua hal yang disebutkan Bayu mengenai komitmen pemerintah terkait sustainability yang bisa disebut. 


“Yang pertama, kita sudah memiliki Rencana Aksi Nasional (RAN) SDGs yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo. Itu jadi pegangan kita semua. Sangat detail, sangat teknis di dalamnya. Mulai dari 17 tujuan dalam SDGs diterjemahkan menjadi target, dari target menjadi indikator, dan kemudian langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Saya melihat ini sesuatu yang sangat baik sekali. Harapannya para pelaku usaha itu mengacu ke sana dan kemudian mengembangkan rencananya masing-masing,” papar Bayu.


Yang kedua, disampaikan Bayu, saat ini telah ada yang disebut Green Economy Initiative. “Ini low carbon development process yang juga sudah diterapkan oleh pemerintah. Dan ini bahkan menjadi bagian dari kerja sama internasional dalam menyusunnya,” terang Bayu.


Dari sisi Kementerian Perdagangan, Bayu mengatakan saat ini aspek sustainability telah menjadi salah satu tema diplomasi internasional yang terpenting. 


Hal tersebut dilakukan baik dalam konteks perundingan maupun dalam diplomasi perdagangan yang konteksnya promotif. 


“Kita selalu tunjukkan, kita luruskan persepsi-persepsi yang berkembang, bahwa apa yang dicapai oleh Indonesia, apa yang dilakukan oleh Indonesia, mungkin memang belum sempurna. Tetapi sudah sangat jauh lebih advance bahkan dibandingkan dengan banyak negara pada peer group kita. Peer group melihatnya bagaimana, salah satunya bisa melalui income per kapita. Dengan peer group itu, Indonesia sangat maju dan ini diakui dunia,” ucap Bayu.


Hal yang Bayu tekankan adalah mempersiapkan diri kita terkait teknologi jangka panjang, yang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari sustainability. 


“Kalau tadi dikatakan 10-15 tahun mendatang, itu artinya anak SD sekarang harus sudah disiapkan karena 15 tahun lagi mereka yang akan jadi lulusan sarjana, yang akan bekerja mengembangkan teknologi-teknologi tadi. Jadi investasi waktu, investasi SDM, investasi riset, itu sangat kritikal. Indonesia negara kepulauan, tropis, teknologinya harus disesuaikan dengan kita dan harus kita kembangkan sendiri,” tegas Bayu.

@Sonny/Tajuknews.com/tjk/11/2021.

Komentar

Berita Terkini