|

Sambut HUT-62, SEMMI Gelar Diskusi Publik "Kenaikan BBM dan Masa Depan Indonesia"

(Foto : Sonny Eko Kusetiawan)
Laporan : Sonny E Kusetiawan (trionenews.com, Jakarta)

Trionenews.com, Jakarta - SEMMI (Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia) sebagai wadah organisasi mahasiswa yang menyuarakan pemuda islam, bekerjasama dengan Pertamina menggelar diskusi publik bertema "Kenaikan BBM dan Masa Depan Indonesia" di Kampung Kite Resto, Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Pada diskusi tersebut Perwakilan dari Pertamina Dewi, mengungkapkan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi Indonesia menjadi polemik ketika menjadi langka akhir-akhir ini. Pertamina adalah sumber utama untuk menopang kelangkaan bahan bakar subsidi tersebut.

"Bahwa subsidi bahan bakar saat ini masih sangat dibutuhkan rakyat yang benar-benar sangat membutuhkannya. Ini menjadi sebuah pertanyaan bahwa sumber energi pada saatnya akan habis. BBM yang masih di subsidi pemerintah yaitu minyak tanah dan solar, kalau solar beda subsidinya cuma sekitar 500 rupiah per liternya," ujar Dewi.

Sementara itu Bintang Wahyu Saputra selaku Ketua Umum DPW SEMMI DKI Jakarta, mengatakan DPW SEMMI akan menjadi inisiator perubahan jika masyarakat menjadi korban atas sebuah kebijakan yang menyimpang.

Bintang menambahkan hal ini dapat kita lihat atas terjadinya kenaikan BBM yang tumpang tindih, dalam hal ini khususnya pertamina haruslah dapat memperhitungkan secara sistematis dan terukur dalam menaikan harga BBM.

"Ada jenis BBM yang disubsidi tertentu kecuali tiga wilayah Jawa, yaitu Madura dan Bali (Jamali), itu sudah ditetapkan pemerintah namun 3 bulan sekali dikoreksi dan kalau BBM umum ditetapkan pemerintah ron oktannya 98," katanya.

Dalam kesempatan yang sama Ketua OKK DPP SEMMI, Abdul Rosyid mengatakan kalau dulu kita tidak sependapat pemerintah terkait BBM kita turun demo tapi sekarang kita diskusi biar pesan kita sampai, dari pada aksi panas-panasan tapi pesannya tidak sampai.

Bahkan terkait kenaikan BBM kata dia, dampak kenaikan BBM 2018 menurutnya biasa-biasa saja tidak ada dampaknya.

"Kalau kenaikan bahan baku yang kena dampaknya adalah masyarakat, pertama transportasi, yang kedua bahan baku produksi, yang menjadikan kenaikan sembako itu sendiri," tegas Rosyid.

Selain itu Direktur Bakornas Lembaga Ekonomi PB HMI, Yana Mustika juga angkat bicara bahwa berbicara masalah kenaikan BBM tidak berdampak signifikan kepada saya pribadi tetapi kenaikan itu perlu dipertanyakan.

"Kebetulan saya dari Maluku, kalau disana kenaikan BBM sangat terasa dampaknya," ucapnya.

Oleh karena itu tambah Yana, di Maluku banyak beli BBM dipengecer dengan harga Rp 15000, sebab kalau mau pergi ke SPBU belum sampai sudah habis, seperti halnya di Tidore SPBU cuma satu.

"Jadi kami berpesan ke Jokowi agar menambahkan SPBU di sana," pesannya.

Gelegar diskusi yang diselenggarakan DPW SEMMI DKI Jakarta ini dalam menyambut Milad SEMMI yang ke 62 tahun, diskusi tersebut juga dihadiri oleh para ketua OKP dan Universitas di DKI Jakarta, PC Hikmahbudhi Jakarta Utara, PMKRI Jakarta Pusat, GMNI Jakarta Pusat, KAMMI DKI Jakarta, Lemi Cabang HMI Jakarta Pusat, PERISAI DKI Jakarta, GPII dan perwakilan kampus seperti Uhamka, UIJ, UBK serta lain sebagainya. (Son.trionenews.com).
Komentar

Berita Terkini