|

Bincang Asyik Pertanian Indonesia Tingkatkan Kesejahteraan Petani"

DR. Ir. Soemarjo Gatot Irianto MS DHH Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dan Siswono Yudohusodo sebagai insan yang konsen dengan pertanian Indonesia, Acara yang di selenggarakan di Kementerian Pertanian, Ragunan ,Jakarta, 11/1/19.

                                               
Trionenews.com, Jakarta -  Kementerian Pertanian mengadakan acara Bincang Ayik Pertanian Indonesia dengan mengangkat tema "Apa Saja Program dan Kebijakan Pemerintah Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Petani" bertempat di gedung Kaca Kementerian Pertanian, Ragunan Jakarta,Jum'at (11/1/2019).

Denga dua narasumber yaitu : DR. Ir. Soemarjo Gatot Irianto MS DHH Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dan Siswono Yudohusodo sebagai insan yang konsen dengan pertanian Indonesia.

DR. Ir. Soemarjo Gatot Irianto MS DHH Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dalam paparannya, sepanjang pengetahuan saya beras yang di impor itu masih ada di gudang dan selama ini kita masih menggunakan beras produksi dalam negeri artinya beras cadangan itu masih ada di gudang hingga hari ini.

"Terkait mengenai langkanya informasi,  kita mengikuti hasil audit lahan yang datanya dikeluarkan oleh BPS yang di produksi oleh tim BPN menurut UU No. 41 Tahun 2009 mengenai UU Pertanian Berkelanjutan itu tugasnya BPN yang menetapkan luas termasuk alokasi pupuknya. Kami disini kompak  dengan birokrasi dan mengikuti aturan main yang tertera dalam undang-undang," ucap Gatot.

"Kami ingin menyampaikan sepintas mengenai kondisi dan kebijakan pertanian,  pangan ini bukan hanya kedaulatan tapi juga harga diri. Nilai tukar petani (NTP) yang dikeluarkan BPS hasilnya luar biasa dan Nikai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) nya juga naik sebagai tolak ukur utama tingkat kesejahteraan petani. Artinya apa yang dihasilkan petani dibandingkan apa yang dibelanjakan jauh lebih tinggi apa yang dibelanjakan. Kita lihat dari 2014 naik signifikan baik itu NTP maupun NTUP," ujarnya.

Lebih lanjut Dirjen Tanaman Pangan memaparkan, Harga pangannya sangat baik karena kebijakan pemerintah yang pro dengan petani sehingga petani tertarik menanam pangan dan mereka mendapatkan keuntungan yang sangat maksimal.

Kita berhasil menaikkan luas panen dari 13,80 juta hektar sampai 15.99 juta hektar, ini ada kenaikan 2.19 juta hektar. Ini data luas khusus tahun 2018 dari BPS. Ini juga sama dengan produktifitasnya naik 0,57 karena gerakannya dibawah juga berjalan  sangat baik dan sumber yang sangat menarik kami main di lahan kering memasuki hujan ini main padi gogo. Kita perluas pengembangan teknologi gogo ini. Gogo ini tidak hanya ditanam padi di lahan kering tadah hujanp.

Kecukupan ini kalau total produksi dikurangi konsumsi. Ini seringkali kami dibenturkan seolah-olah surplus padahal wilayah lain kekurangan.  Surplus secara nasional bukan berarti tidak ada defisit disuatu tempat. 


Defisit di suatu daerah bukan berarti dikabupaten tertentu defisit, di kabupaten lain surplus. Hitungan kita adalah profinsi. Jadi dimohon lebih detail dakam memberikan informasi agar supaya masyarakat tidak bingung.

Ini menarik, selama 2014-2018 kami mengembangkan model tumpang sari yaitu model mono kultur seperti jaman purbakala. Seperti padi jagung kedelai (PJK), padi padi jagung (PPJ), padi jagung jagung (PJJ), dan PPJ tumpang sari.
Yang dilakukan ini kita ingin persatuan luas ada peningkatan produktifitas karena kita ingin ada efisiensi. Saya mengusulkan tanamnya juga tidak pakai transmeter tetapi ditebar agar biayanya murah dan waktunya lebih cepat.
Kalau tanam padi menggunakan transmeter maka biaya perhektarnya sebesar 1,2 juta rupiah dan harus berjalan ditempat lumpur, sekarang metode tanam dengan ditebar ongkosnya hanya 100rb rupiah perhektarnya. Sehingga satu orang bisa  melakukan tiga hektar dalam sehari. Kalau 100rb perhektar maka akan mendapatkan 300rb perhari. Mereka tida akan lari ke kota mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan naturnya.

Dengan pola tanam tebar maka populasi tanam padinya juga lebih rapat, dan juga tidak usah nyiang karena nyiang membuat punggung pegal, membuat kaki kasar dan membesar. Kalau pola PJK dengan tumpangsari akan ada peningkatan produksi dua hingga tiga kali.

Target kita satu hektar lahan sawah di musim kemarau bisa menghasilkan satu hektar padi dan satu hektar jagung dengan biaya produksi yang lebih murah. Kuncinya bagaimana menaikkan populasi, produktifitas dan bagaimana menurunkan biaya produksi.

Saya lihat di negara negara maju pola tanamnya ditabur dengan menggunakan heli. Seperti yang di lakukan di California, Amerika Serikat.

Produksi PJK mengalami peningkatan tetapi sampai saat ini kita masih banyak mengimpor. Kami kemarin berdiskusi dengan para pedagang produsen benih, mereka bilang kalau bisa importir kedelai diwajibkan untuk menanam kedelai di dalam negeri supaya ada kewajiban tidak hanya bisa mengimpor sebanyak-banyaknya tetapi juga menanam supaya kebutuhan dalam negeri berkembang. Hal ini di usulkan teman-teman dan Dirjen Tanan Pangan setuju akan hal ini. Saya kira menanam benih tidak terlalu susah namun tantangannya banyak, jangan sampai mereka menanam dan mereka sendiri yang mengimpor sehingga harganya jatuh.

Kami terus kembangkan area-area baru sehingga tumbuh menjadi titik percontohan yang bisa dikopi ataupun dicontoh oleh masyarakat.

Tumpang sari jagung kedelai karena kalau petani mau menanam jagung harus tumpang dengan kedelai supaya jagung dan kedelai hidup berdampingan secara damai. Begitupun padi agung dan padi kedelai harus berdampingan.

Semua kita coba dan hasilnya cukup bagus. Jadi keuntungan jarak tanam rapat populasinya cukup tinggi, luas dan produksinya meningkat dan juga pupuknya lebih efisien.

2019 kita mencanangkan 500 ribu hektar. 250rb hektar di Kalsel dan 250rb hektar di Sumsel. Kita ingi panen yang sekali menjadi dua sampai tiga kali panen.

Dengan adanya pompa dengan kapasitas besar, air yang masuk di lahan selalu kita kontrol dan apabila kelebihan ataupun kekurangan air selalu kita pompa sehingga pertumbuhannya sangat baik sekali dan ini masa depan kita dalam pangan.

Sekarang ini ada desa mandiri benih, hal ini sangat penting karena kalau benih ini diproduksi jaraknya jauh dan ongkosnya banyak dan mutunya akan turun, maka kita kembangkan desa mandiri benih dan capaian kita naik 151 persen. Kami berharap daerah itu memproduksi benihnya sendiri dengan kesesuaian terhadap lingkungan setempat.

Benih-benih hanya ditujukan kepada derah-daerah yang belum pernah menanam dan daerah-daerah yang mau menanan dengan teknik berdampingan atau tumpang sari dengan konsisten. Sekarang ini kami sudah menginisiasi di Banyuasin yang panennyan sudah digerakkan oleh satu jenis usaha sendiri yang mengelola dari mulai olah tanah, tanam, pencegahan hama penyakit, panen, dan pasca panen sehingga anak-muda yang punya lahan gak ada yang ke kota. Kita segaja disain agar tidak menginjak lumpur dan tanah sambil mendengarkan musik.


Untuk pengolahan tanah dengan eksafator mereka sudah bekerja 24 jam. Kita sudah mulai latih mereka seperti disipil karena ada lampu, mereka bisa bekerja 24 jam.
Untuk pengendalian hama penyakit ini sangat penting karena semakin intensif serangan opt hamanya juga tidak kendor. Oleh karenanya kami mengintrodusir budidaya tanam sehat, kalau tanahnya itu masam maka keseimbangan populasi pembusukan akan terganggu sehingga muncul tanaman hama baru. Begitu dikasih dolovit dan pupuk organik, tanah kembali menjadi netral dan musuh alami tumbuh dan akan menyerang hama tersebut.


Keinginan maju bisa ketemu di satu tempat. Apa yang yang dilakukan sekarang ini tidak cukup dengan memberikann pedoman, panduan, tetapi kita turun langsung menginap dilapangan bersama para petani. Artinya kita sama tahu susahnya, tantangannya seperti apa dan kita selesaikan bersama.


Pertama saya masuk di Tanaman Pangan, saya minta perluasan area tanam baru. Yang sudah biasa dapat bantuan benih tidak akan kita bantu. Nomor satu yang kita bantu adalah yang belum pernah kita bantu seperti dibawah kelapa, dibawah sawit. Ini adalah perluasan dalam arti yang spesifik bukan buka lahan baru.


Untuk rawa adalah hal yang dahsyat sekali. Kalau musim kemarau rawa tersebut akan kebakaran. Dengan sekeliling rawa diisi air, kita bisa mengontrol masalah kebakaran dan uang pengendalian kebakaran bisa digunakan untuk pemberdayaan lahan.


Kebijakan yang dilakukan untuk peningkatan pangan salah satunya dengan pemanfaatan rawa di Kalsel dan Sulsel yang akan menjadi contoh untuk daerah lain.


Dengan adanya contoh tersebut para kepala desa yang ingin maju daerahnya melakukan pikinik di Sulsel dan kalsel. Gimana mereka ingin lahannya bisa panen dua sampai tiga kali. Kami senang karena beberapa gubernur sudah mulai merespon dan sadar betul mengenai pertanian itu sendiri.

Ekspor pangan ini menjadi triger peningkatan produksi karena harga komoditas ekspor lebih baik jika dibandingkan harga lokal. Kita buat perusahaan di tetangga sebelah ataupun negara perbatasan untuk dijual dinegara tersebut seperti yang dilakukan negara mutinasional.


Penting sekali mengembangkan visi ekspor pangan dengan mutu dan kualitas yang baik. Dengan ekspor petani yang makin membaik maka petani akan bermain dengan kualitas dan kontinuitas. Dengan kontinuitas kita tidak bisa dilawan okeh negara manapun karena musimnya bergeser dari Aceh sampai Papua. Sepanjang tahun kita bisa memproduksi karena keunggulan iklim yang merata sepanjang tahun.

Iklim kita dari mulai dari pantai sampai pegunungan kita punya. Hampir semua komoditas bisa kita budidayakan dengan satuan besar agar lebih produktif. Supaya jalan, ekspornya harus jalan sebagai pengendali triger didalam negeri. Kalau ekspornya jalan, petani disuruh menanam apa saja dan harganya cocok akan OK dilakukan.
Trionenews.com/Guf/tri1©2019.
Komentar

Berita Terkini