|

Pengamat Sosial dan Kebijakan Rudi Darwanto, " Soal Mudik, Pemerintah harus Konsisten dengan Kebijakannya Sendiri "

Pengamat Sosial dan Kebijakan  Publik 
Rudi Darmawanto Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam menangani wabah COVID-19 di Indonesia, di Jakarta, 04/04/2020. Pemerintah harus tegas dalam mengambil sikap  atau Keputusan  dan memberikan solusi Sehingga tidak menimbulkan kebingungan  di Masyarakat. Sonny/Tajuknews.com/tjk@April/2020.  


TAJUKNEWS.COM, Jakarta. - Pengamat Sosial dan Kebijakan  Publik
Rudi Darmawanto, mengatakan Semenjak awal, banyak pihak memprediksi pemerintah pusat akan menemui banyak langkah dilematis terkait pilihan sikap politik persuasinya lewat penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam menangani wabah COVID-19 di Indonesia.

" Pada Kondisi saat Pandemik wabah covid 19  kebijakan  pemerintah  sangat dilematis
Terakhir, klarifikasi Mensegneg Pratikno terkait himbauan pelarangan mudik yang disampaikan oleh juru bicara istana Fajroel Rahman sebelumnya cukup memberi kesan seolah internal pemerintah pusat sedang kebingungan dengan kebijakannya sendiri." ungkapnya pada wartawan  di Jakarta Sabtu (4/4/2020)

Dijelaskan Rudi Darmawanto, Pemerintah harus tegas dalam mengambil sikap  atau Keputusan  dan memberikan solusi Sehingga tidak menimbulkan kebingungan  di Masyarakat

' sikap gamang pemerintah pusat yang menjadi persoalan publik hari ini.  sesungguhnya beban publik saat ini sudah dipenuhi oleh kecamuk hebohnya wabah corona hingga beban ekonomi yang sedang ditanggungnya. Karenanya jangan pula warga diperlihatkan kehebohan sikap gamang di internal pemerintah. Belum lagi, dampaknya akan merembet pada bermacam kebijakan daerah yang saling kontraproduktif "jelasnya

Dikatakan   Rudi hal semesti ini seharusnya  tidak perlu terjadi jika pihak pemerintah pusat konsisten berpijak dan melangkah komprehensif dengan kebijakan yang telah dipilih.

“Mestinya konsisten saja disitu. Termasuk bijak mensikapi soal pilihan warganya hendak mudik”, tegas Rudi.

Lebih lanjut Rudi mengatakan Soal mudik, faktanya gelombang awal warga perantauan pulang kampung sudah berlangsung sejak pemerintah mulai menghimbau pembatasan aktivitas ekonomi hingga sekolah siswa secara nasional. Apalagi prediksi kondisi pembatasan sudah sejak awal diumumkan, yang memungkinkan hingga mencapai 3 bulan kedepan.

"Faktanya sudah banyak warga yang mudik dengan alasan silaturahmi  dengan famili di Kampung atau karena alasan ekonomi  karena banyak dari mereka yang kehilangan mata pencaharian di tengah merebaknya covid 19, "ucapnya

Bahkan Rudi menuturkan, keinginan warga mudik tahun ini pasti bukan karena hendak mengejar semarak berlebaran dikampung halaman seperti biasanya. Warga mudik lebih karena untuk menutupi rasa khawatir, pasrah dengan kondisi pekerjaannya dikota, serta berusaha bersikap apa adanya.

Bagi Rudi, dari kenyataan ini mudik justru mestinya bisa menjadi bagian dari kebijakan pemerintah. Artinya, warga pekerja pendatang yang memenuhi kota perlahan dikondisikan dikampung halamannya.

“Bukankan pemerintah sendiri gencar mensosialisasikan #Dirumah Aja , ”ujar  Rudi.

Ia sendiri sadar bahwa langkah ini harus diikuti pula dengan sejumlah mekanisme (SOP) yang ketat. Pemerintah pusat dan pemda setempat tentunya harus melakukan tahapan berlapis dan perlakuan tertentu ditiap lapis yang ada hingga pemudik siap sehat tiba dirumah keluarganya.

“Dari sini mudik bersama justru harus dihidupkan kembali, secara bertahap dan efektif, sehingga semua tahap pemeriksaan warga optimal, baik saat berangkat hingga dikantong-kantong penurunan warga yang mudik  mekanisme ini bisa menjadi tahapan screening bagi warga yang terdeteksi, baik yang dalam status PDP bahkan yang telah positif kena covid 19, "pungkasnya 

Sonny/Tajuknews.com/ tjk@April/2020.
Komentar

Berita Terkini