|

Ketua PWNU Jatim: Tidak Perlu Boikot Produk Prancis

 

Pendemo meneriakkan yel-yel terkait boikot produk Perancis terkait pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron beberapa waktu lalu.


TAJUKNEWS.COM, JAKARTA. - Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuqi Mustamar menyerukan dan mengajak kaum Nahdliyin khususnya dan masyarakat umumnya untuk tidak ikut ikut memboikot produk Prancis. Penegasan Pimpinan Pondok Pesantren Sabilul Rosyad, Gresik Jawa Timur ini dikutip dari video yang tengah viral di media sosial, Minggu (8/11/2020).


"Kalau anda mau berangkat Umroh, lalu pesawatnya Airbus masak iya tidak jadi berangkat. Dan pesawat itu produksi Prancis. Apa tidak malu-maluin teriak boikot produk Prancis ternyata naik pesawat Airbusnya menuju 'Tanah Haram'," ungkap KH Marzuqi.


Salah satu murid KH. A. Masduqi Machfudz, ulama Kota Malang, Jawa Timur itu menyatakan, jika benar-benar saling melakukan Muqothoah (boikot), Indonesia memboikot Prancis dan sebaliknya, maka yang rugi Indonesia.


"Kita lebih banyak ekspor ke Prancis dari pada kita impor. Neraca perdagangan Prancis-Indonesia itu, impor hanya 1,9 miliar dolar sementara ekspor Indonesia 2 koma sekian miliar dolar," katanya.


Kiai kharismatik itu menambahkan selain  pesawat, berbagai macam produk Prancis juga menjadi sumber nafkah dan kebutuhan sehari-hari. Dia mencontohkan produksi aqua (pabrik) yang berlokasi di Pandaan (Pasuruan Malang, Jawa Timur) kemudian ritel Carrefour yang menampung banyak karyawan muslim.


"Itu (pabrik aqua Pandaan), masjidnya juga besar. Mayoritas karyawannya muslim. Yang namanya Pasuruan masa karyawannya kristen. Andai diboikot beneran, aqua berhenti, Carrefour berhenti yang banyak kena PHK juga ya umat muslim," ujarnya.


"Lalu nanti karena kita banyak ekspor minyak sawit mentah (CPO), itu saling melakukan embargo, muqothoah sama-sama kita memboikot disana juga memboikot, maka sawit Indonesia lalu harganya anjlok tidak laku disana. Yang rugi bukan eksportir tapi petani-petani sawit di Riau sana juga. Riau bangkrut," tegasnya.


"Saya mohon yang seperti ini diperhitungkan, jangan hanya menuruti emosi. Hanya menuruti maunya islam garis keras. Begitu kita tidak ikut-ikutan disebut liberal, disebut kafir. Kamu yang bikin masalah kenapa ngajak-ngajak kita (NU)," tambahnya.


Kiai Marzuqi juga menjelaskan ada yang mempertanyakan negara Islam Kuwait melakukan pemboikotan produk Prancis. Menurutnya dengan jumlah penduduk sebanyak 300 ribu jiwa, memboikot Prancis tidak ada efek dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia lebih dari 260 juta jiwa.


"Kuwait hanya mengimpor dari Prancis tanpa ekspor. Kalau mereka memboikot produk Prancis yang rugi Prancis, Kalau Indonesia dan Prancis saling memboikot yang rugi Indonesia karena kita negara eksportir. Tidak sama konteksnya," ujarnya.


Terkait dengan pernyataan kontroversi Presiden Prancis Emmanuel Macron, menurut Kiai Marzuqi sebagai muslim tentu marah, tersinggung karena Nabi dikatakan jelek. Tapi kita juga harus mengevaluasi, mawas diri dan intropeksi dengan kebaikan dan perlakuan pemerintah Prancis kepada umat muslim yang ramah kepada Islam Ahlusunnah. 


"Lebih dari 2 ribu masjid tetap berdiri dan aman-aman saja, umat muslim di Prancis masih melakukan ibadah seperti biasa, zikiran aman-aman saja, bebas tanpa intimidasi. Pengungsi dari Suriah ribuan masuk Prancis juga diterima," katanya.


"Yang membuat Prancis marah itu bukan Islam seperti kita (NU). Yang membuat marah Macron itu semodel ISIS itu. Teroris itu lho. ISIS, teroris, kaum radikal yang membunuh, Faham ya. Jadi yang bermasalah itu islam radikal, bukan islam umum seperti kita ini," ungkapnya.


"Kita tidak mendukung orang kafir, tapi bagaimana kita bisa membuat islam itu menarik. Jangan sakiti orang lain. ayo kita berbudaya, ayo kita santun, ayo kita sopan. ayo kita senantias memberi solusi hidup kepada muslim maupun non muslim. NU biar saja NU, Ahlussunnah biar saja Ahlussunnah. Kamu mau begitu silakan urusan kamu," tegas KH Marzuqi Mustamar.

©Sonny/Tajuknews.com/tjk/11/2020.

Komentar

Berita Terkini