|

IKLAN BANNER

IKLAN BANNER
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum, Mohon Maaf Lahir dan Bathin, Selamat idul Fitri 1443H

Pengamat Media Kritisi Survei Galon YLKI

 

Dosen ilmu komunikasi, Satrio Arismunandar, mengkritisi survei dan rekomendasi yang dibuat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang tidak berdasarkan metode penelitian ilmiah, tapi lebih pada asumsi, dugaan, kecurigaan, prasangka, ataupun “misi” tertentu. di Jakarta, 30/03/2022. ni bisa berdampak negatif dan merugikan banyak pihak termasuk masyarakat. Terutama, jika argumen yang dibangun lemah dan rekomendasi yang diajukan juga terkesan dipaksakan dan mengada-ada. @Sonny/Tajuknews.com/tjk/03/2022.

TAJUKNEWS.COM, Jakarta - Dosen ilmu komunikasi, Satrio Arismunandar, mengkritisi survei dan rekomendasi yang dibuat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang tidak berdasarkan metode penelitian ilmiah, tapi lebih pada asumsi, dugaan, kecurigaan, prasangka, ataupun “misi” tertentu. Menurutnya, sebagai lembaga perlindungan konsumen yang sudah memiliki nama, YLKI seharusnya tidak melakukan survei yang tujuannya diduga untuk kampanye menolak produk tertentu. 

 

“Jika survei yang dilakukan cuma basa-basi biar dianggap ilmiah dan tidak nyambung dengan materi atau substansi yang diteliti, ini bisa berdampak negatif dan merugikan banyak pihak termasuk masyarakat. Terutama, jika argumen yang dibangun lemah dan rekomendasi yang diajukan juga terkesan dipaksakan dan mengada-ada,” ujar pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini dalam tulisannya di Kompasiana.

 

Salah satu yang menjadi sorotan Satrio dari survei YLKI itu adalah soal objek yang disurvei. Dikatakannya, populasi survei post market adalah toko yang menjual AMDK galon, meliputi supermarket, minimarket, agen, dan warung. “Seharusnya, populasi penelitian survei konsumen adalah seluruh konsumen yang pernah atau berlangganan dalam pengkonsumsian AMDK dan bukan toko penjualnya,” ucapnya.

 

Satrio melihat ada beberapa kerancuan dan kelemahan dalam penelitian yang dilakukan YLKI. Menurutnya, survei YLKI dilakukan hanya untuk membuat opini negatif terhadap AMDK galon guna ulang. “Opini seperti ini tidak bisa dijadikan dasar untuk membuat kesimpulan tentang sesuatu fakta yang harus diukur dengan alat atau instrumen yang tepat, yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tukasnya. 

 

Selain itu, menurutnya, survei yang dilakukan YLKI yang menyimpulkan bahwa  AMDK galon guna ulang yang terpapar sinar matahari akan menimbulkan migrasi zat BPA ke air minumnya, itu tidak bersifat objektif.  “Kesimpulan seperti itu kan harus diukur dengan alat tertentu, dan bukan sekadar opini. Bahkan, untuk mengukur keterpaparan sinar matahari pun juga perlu ketersediaan alat ukur dan penguasaan teknis tersendiri, yang masyarakat awam tidak paham dan tidak bisa melakukannya. Ini harus dilakukan oleh orang yang ahli atau profesional di bidangnya,” katanya.

 

Selain itu, kata Satrio, dalam penelitian ilmiah harus ada batasan yang jelas untuk pengertian terpapar sinar matahari. “Apalagi jika mau mengklaimnya hingga ke tahap yang berisiko pada kesehatan konsumen,” ucapnya.

 

Dia mencontohkan seperti apakah terpapar matahari pada pukul 6.30 pagi bisa disamakan dengan terpapar matahari pukul 12.00, berapa lama AMDK galon guna ulang harus terpapar sinar matahari dan berapa sebetulnya suhu maksimal yang bisa terjadi sehingga bisa dikategorikan berisiko bagi kesehatan konsumen. 

 

“Hal-hal semacam ini lazim dalam penelitian ilmiah, tetapi tidak tercakup dalam survei YLKI itu. Jadi, survei yang dilakukan YLKI ini sebenarnya cuma embel-embel atau basa-basi. Karenanya, survei itu tidak bisa dijadikan landasan untuk membuat kesimpulan ataupun rekomendasi,” tukasnya.

 

Satrio membandingkan klaim-klaim YLKI ini dengan pernyataan pakar yang lebih kompeten menyoroti soal BPA dalam galon AMDK. Dia menyebut pakar polimer Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Zainal Abidin, yaang menyatakan bahwa galon AMDK berbahan PET yang digunakan untuk galon sekali pakai lebih berisiko jika terkena sinar matahari dan benturan, dibandingkan galon guna ulang yang berbahan Polikarbonat.

 

Hal itu karena galon PET memiliki temperatur transisi gelas (Tg) yang jauh lebih rendah dibanding yang berbahan Polikarbonat. Suhu transisi gelas adalah suhu di mana suatu polimer mengalami perubahan dari liquid (yang mengalir, walaupun mungkin sangat lambat) menjadi bentuk solid.

 

Menurut Ahmad Zainal Abidin, galon berbahan PET memiliki temperatur transisi gelas pada 80 derajat Celcius, sedang galon Polikarbonat pada 150 derajat Celcius. Dengan demikian, menurutnya, galon berbahan PET akan lebih berisiko jika terkena sinar matahari ketimbang Polikarbonat.

 

“Pertanyaan saya, secara logika sederhana, mungkinkah suhu sinar matahari bisa mencapai 150 derajat Celcius? Jika itu terjadi, bahkan pada suhu 100 derajat Celcius pun galon guna ulang polikarbonag itu tidak mungkin bisa disentuh dengan tangan karena panasnya seperti air mendidih. Artinya, klaim bahwa bahan Polikarbonatnya mengalami perubahan (dan memicu migrasi BPA) akibat terpapar sinar matahari, lebih terdengar seperti klaim yang mengada-ada atau asbun (asal bunyi),” kata Satrio.

@Sonny/Tajuknews.com/tjk/03/2022.

Komentar

Berita Terkini