|

IKLAN BANNER

IKLAN BANNER
AYO INDONESIA BANGKIT, " PULIH LEBIH CEPAT BANGKIT LEBIH KUAT"

KKP Dorong Mahasiswa IPB Lakukan Riset Komoditas Prioritas Ekspor Berbasiskan Ekonomi Biru

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong civitas akademi Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan riset terapan untuk pengembangan komoditas prioritas berorientasi ekspor. Jakarta,20/09/2022. Riset terapan untuk komoditas unggulan yang bernilai ekonomis tinggi seperti udang, rumput laut, lobster dan kepiting, merupakan salah satu bentuk sinergi akselerasi implementasi ekonomi biru. @Sonny/Tajuknews.com/tjk/09/2022.

TAJUKNEWS.COM, Jakarta. - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong civitas akademi Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan riset terapan untuk pengembangan komoditas prioritas berorientasi ekspor. Riset terapan untuk komoditas unggulan yang bernilai ekonomis tinggi seperti udang, rumput laut, lobster dan kepiting, merupakan salah satu bentuk sinergi akselerasi implementasi ekonomi biru.


“Dukungan dari civitas akademi IPB sangat kita butuhkan, mahasiswa dan para peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan kami dorong untuk melakukan riset yang sejalan dengan program terobosan KKP. Kami memerlukan sinergi dengan Perguruan Tinggi dalam menghasilkan teknologi maupun kajian terkait perikanan, khususnya pada sub sektor perikanan budidaya”, jelas Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu saat sebagai keynote speaker dalam kegiatan Aquaculture Festival (Aquafest) 2022 yang diselenggarakan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University tanggal 17-18 September 2022.


Tebe menjelaskan salah satu bentuk sinergi yang dapat dilakukan adalah memperbanyak penelitian dan inovasi teknologi terkait komoditas prioritas yang sejalan dengan program terobosan KKP. Selain itu juga menekankan dan menyuarakan prinsip Ekonomi biru, sehingga dihasilkan hasil penelitan dan inovasi teknologi yang dapat mendukung peningkatan produksi perikanan budidaya nasional serta berkualitas dan ramah lingkungan.


Saat ini KKP memiliki lima strategi Ekonomi Biru yang salah satunya yaitu pengembangan budidaya perikanan ramah lingkungan, khususnya untuk komoditas bernilai ekspor tinggi seperti udang, lobster, rumput laut dan kepiting. “Pesan Menteri Kelautan dan Perikanan, Bapak Sakti Wahyu Trenggono sangat jelas, dalam mengimplementasikan program terobosan salah satunya pengembangan perikanan budidaya ramah lingkungan, khususnya untuk komoditas bernilai ekspor tinggi harus mengedepankan keseimbangan tiga aspek yang saling berkaitan satu sama lain yaitu pentingnya menjaga kesehatan ekologi dan peningkatan ekonomi berkelanjutan dan aspek sosial bagi masyarakat”, papar Tebe.


Dari empat komoditas yang diunggulkan bernilai ekonomis tinggi, salah satunya udang. Pasalnya merupakan komoditas perikanan yang sangat diminati oleh pasar dunia dan Indonesia berkontribusi terhadap pemenuhan pasar udang dunia rata-rata sebesar 6,9% dari kurun waktu 2015-2020.


Jurus KKP dalam peningkatan produksi udang nasional antara lain langkah pertama yaitu, mengevaluasi, baik lahan budidaya, teknologi maupun pendataan. Hal ini dilakukan untuk melihat produktivitas, tingkat kesejahteraan pembudidaya dan dampaknya terhadap ekologi. Pasalnya, selama ini permasalahan produksi budidaya tidak bisa tercapai karena infrastruktur budidaya udang tidak memenuhi standard best practice.  Dimana standarnya praktek budidaya harus mengikuti praktek budidaya yang ramah lingkungan. Kegiatan budidaya, khususnya tambak udang wajib memiliki instalasi pengolahan air limbah agar air yang digunakan setelah proses budidaya tidak mencemari lingkungan. “Dengan infrastruktur yang mendukung, ditambah dengan lingkungan yang bersih, laut tetap selalu sehat, maka akan menciptakan iklim tambak yang sehat. Sehingga produksi bisa lebih maksimal,” ujar Tebe.


Langkah kedua, lanjut Dirjen Tebe, dengan merevitalisasi tambak udang untuk meningkatkan produktivitas lahan tambak tradisional dari 0,6 menjadi sekitar 30 ton per hektare per tahun, dengan output terbangunnya tambak ramah lingkungan dan outcome peningkatan nilai tukar pembudidaya ikan dengan begitu ada peningkatan produksi yang lebih signifikan.


Dan langkah ketiga, yaitu dengan modelling tambak udang yang bertujuan meningkatkan produktivitas lahan budidaya udang sekitar 80 ton per hektare per tahun, melalui pengelolaan tambak udang modern, efisien, dan terintegrasi hulu-hilir dalam satu kawasan yang terukur dan berkelanjutan.


“Strategi pengembangan budidaya udang harus menggunakan konsep pengembangan budidaya udang yang memenuhi konsep pendekatan hulu-hilir yang baik dalam satu kawasan industri atau kawasan ekonomi. Konsep pendekatan hulu-hilir meliputi hatchery, pabrik pakan, on-farm budidaya udang, pengolahan hasil budidaya, proses pengemasan, ekspor serta penjualan, sehingga seluruh nilai tambahnya akan berputar di wilayah tersebut termasuk partisipasi masyarakat. Dengan model begini akan tercipta iklim budidaya yang terintegrasi, dengan cost yang lebih efisien tapi hasil yang lebih maksimal. Sehingga menjadikan udang sebagai tulang punggung ekonomi sektor perikanan bisa terwujud,”  tandas Tebe.


Tebe menambahkan untuk dapat tercapainya target produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton pada tahun 2024, diperlukan sinergi antara pemerintah, swasta dan stakeholder. Selain itu peningkatan produksi udang dapat tercapai apabila irisan budidaya perikanan dapat dijalankan dengan benar dan sesuai kaidah, seperti wadah dan media budidaya harus benar, serta biota yang berkualitas. Tidak hanya irisan itu saja, tetapi juga harus peduli dengan vegetasi lingkungan, serta dikemas dalam konsep kawasan. Dan tentunya juga dukungan akademisi riset terapan untuk komoditas prioritas dan sumber daya manusia yang berkompeten.


Dalam kesempatan yang sama, Rektor IPB, Prof Arif Satria menyampaikan bahwa dalam mewujudkan sub sektor perikanan budidaya yang maju dan selalu menjadi tumpuan masyarakat dalam memperoleh kebutuhan protein dan penghasilan, mahasiswa harus berperan membantu percepatan transformasi masyarakat kita dalam memasuki era 4.0. Mahasiswa harus semakin semangat menggali gagasan-gagasan baru yang bisa mensukseskan pembangunan perikanan budidaya untuk kemajuan bangsa.


“Masa depan perikanan budidaya Indonesia ada di tangan para mahasiswa semua. Mahasiswa harus mampu berkreasi, selalu menciptakan inovasi unggulan, ramah lingkungan dan berkelanjutan. IPB University terus mendorong kreativitas mahasiswa untuk berinovasi menghasilkan berbagai produk yang solutif bagi masyarakat”, tandas Prof Arif.


@Sonny/Tajuknews.com/tjk/09/2022.

Komentar

Berita Terkini