![]() |
| Masjid Al Huda Gunungkidul sebelum dirobohkan: Diunggah Selasa (6/1/2026). Foto: Dok. Budi Antoro |
TAJUKNEWS.COM/ Gunungkidul. - Masjid Al Huda di RT 02 RW 11 Gari, Wonosari, Gunungkidul, dirobohkan gegara ada orang yang menjanjikan donasi buat pembangunan dengan syarat masjid itu harus dibongkar. Begini potret masjid itu saat masih utuh.
Ketua II Takmir Masjid Al Huda, Budi Antoro mengatakan Masjid Al Huda berdiri sejak tahun 1984. Masjid itu luasnya 22 x 18,5 meter. Bangunan masjid itu terdiri dari ruangan inti dan serambi.
Berdasarkan foto dari pengurus Masjid Al Huda, tampak masjid itu tersebut bercat hijau muda. Lantainya keramik putih.
Hari ini, pantauan detikJogja di lokasi, Masjid Al Huda sudah rata dengan tanah. Tampak beberapa pekerja bangunan sedang sibuk membangun talud dan mengecor pondasi cakar ayam.
"Dan sampai sekarang bagian pokok belum pernah diperbaiki, hanya memperbaiki serambi dan keramik bagian yang belum dikeramik," kata Budi kepada wartawan di Gari, Wonosari, Gunungkidul, Selasa (6/1/2026).
"Jadi memang sudah waktunya (direhab), dan perencanaannya setelah lebaran (2026) baru membangun pelan-pelan. Tapi kok ada tawaran itu tadi (dari dua oknum) dan akhirnya diiyakan (dirobohkan)," ujarnya.
Duduk Perkara Perobohan Masjid
Diberitakan sebelumnya, setelah masjid itu terlanjur dibongkar, ternyata donasi yang dijanjikan cuma 'prank' belaka.
Menurut Ketua II Takmir Masjid Al-Huda, Budi Antoro, pembongkaran masjid itu bermula pada November 2025. Saat itu ada dua orang dari Gari dan Ngawen yang menanyakan soal rencana pembangunan masjid.
Kedua orang itu disebut menawarkan bantuan pembangunan masjid sampai 99 persen. Keduanya juga menemui sesepuh dan takmir masjid.
"Syaratnya masjid kami harus dibongkar, dan akhirnya dalam waktu dua hari masjid kami bongkar pada bulan November," kata Budi kepada detikJogja, Senin (5/1/2026).
"Tapi tidak ada sama sekali, tidak ada dana masuk sama sekali setelah pembongkaran itu," sambungnya.
Sebelumnya, warga juga tidak diperbolehkan mencari donatur lain.
"Pada waktu itu kami mau mencari donatur saja tidak boleh, karena 99% sudah dari sana. Sehingga kami tidak punya persiapan apapun," ujar Budi.
Kedua orang itu kemudian mendatangkan pihak yayasan ke lokasi untuk melakukan survei.
"Tapi kedatangan itu belum menentukan persetujuan, jadi baru survei lokasi sifatnya," jelas Budi.
Setelah itu pengurus Masjid Al Huda bisa berkomunikasi dengan yayasan tersebut.
"Kemudian karena kami sudah berkomunikasi langsung dengan yayasan, mereka menyatakan tadinya berminat menjadi donatur tapi mereka tidak bisa memutuskannya sendiri karena harus ada persetujuan dari komisaris dan pengurus lain. Lalu bulan Desember dihubungi kalau pengajuan kita tidak disetujui," ungkapnya.
Setelah masjid itu rata dengan tanah, warga setempat beribadah jemaah di musala-musala kecil. Sebab, Masjid Al Huda ialah satu-satunya masjid di desa itu.
Buka Donasi
Pihak pengurus masjid akhirnya mencari donatur lain. Kini sudah ada satu donatur, meski donasinya tidak banyak.
"Sehingga kami lebih semangat lagi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan masjid. Saat ini masih 0,01%, ini baru mulai pembangunan talud saja untuk mengamankan fondasi dari tanah warga," kata Budi.
Lantaran biaya pembangunan masjid itu masih membutuhkan banyak biaya, Budi membuka donasi melalui rekening Masjid Al Huda di Bank BRI dengan nomor 698701029410535.
Budi menambahkan, pihaknya juga tidak akan melaporkan dua orang yang sebelumnya menawarkan bantuan Pembangunan dengan syarat masjid harus dibongkar.
"Menurut saya tendensinya seperti apa tidak tahu, tapi yang jelas warga Gari merasa tertipu dengan mereka berdua. Saya juga sudah tidak komunikasi lagi, sudah saya ikhlaskan, Monggo mau seperti apa nanti yang akan memberikan peringatan Allah," katanya.
"Tidak (lapor polisi), kami tidak mau memperpanjang. Nanti biar Allah yang memberikan peringatan," pungkas Budi.
@Sonny/Tajuknews.com/tjk/01/2026.
.jpeg)