|

INVESTASI AKHIRAT MELALUI , " HEWAN QURBAN "

INVESTASI AKHIRAT MELALUI , " HEWAN QURBAN "
Sonny Berkah Farm

Sekum INKOPPAS Andrian Lame Muhar, Pahami Dinamika Pasar Saatnya Akselerasi Digitalisasi Bagi Pedagang dan Apresiasi Langkah Kementan

 

Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS), Andrian Lame Muhar, SE, Msi,  menjelaskan bahwa mayoritas komoditas pangan Indonesia saat ini masih bergantung pada impor yang transaksinya menggunakan mata uang dolar. Jakarta, 21/05/2026. Menurutnya, "  Sejumlah komoditas yang terdampak langsung antara lain daging sapi impor asal Australia, bawang putih dari China, hingga minyak goreng. Bahkan, harga kemasan ikut melonjak akibat kelangkaan nafta sebagai bahan baku yang dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz. Kondisi ini kian menjepit masyarakat karena terjadi di tengah penurunan daya beli menjelang Iduladha akibat keterbatasan lapangan kerja dan pendapatan yang stagnan. Foto : @Sonny/Tajuknews.com/tjk/05/2026.


TAJUKNEWS.COM/ Jakarta. - Dampak Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah bergerak pada meroketnya harga pangan di pasar domestik. Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS), Andrian Lame Muhar, SE, Msi, " menjelaskan bahwa mayoritas komoditas pangan Indonesia saat ini masih bergantung pada impor yang transaksinya menggunakan mata uang dolar.


“Banyak harga pangan itu diperhitungkan dengan USD. Kalau dolar naik, harga-harganya pun naik,” ujar Lame, sapaan akrabnya kepada wartawan, Kamis (21/5/2026) di Jakarta.

Sejumlah komoditas yang terdampak langsung antara lain daging sapi impor asal Australia, bawang putih dari China, hingga minyak goreng. Bahkan, harga kemasan ikut melonjak akibat kelangkaan nafta sebagai bahan baku yang dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz. Kondisi ini kian menjepit masyarakat karena terjadi di tengah penurunan daya beli menjelang Iduladha akibat keterbatasan lapangan kerja dan pendapatan yang stagnan.



Subsidi Sebagai Langkah Jangka Pendek

Menghadapi situasi ini, Andrian menilai pemberian subsidi oleh pemerintah merupakan langkah paling efektif dan radikal untuk menekan lonjakan harga pangan, sejauh kemampuan keuangan negara mencukupi.



Saat ini, beberapa program subsidi dan intervensi pemerintah sudah berjalan, meliputi:

1. Penyaluran beras melalui program SPHP.

2. Penyediaan daging kerbau sebagai substitusi daging sapi impor.

3. Pengelolaan minyak goreng melalui mekanisme Domestic Market Obligation (DMO).

4. . Pemberian relaksasi pajak untuk sejumlah komoditas pangan.

5. Subsidi angkutan jalur laut untuk memangkas biaya logistik.

Meski demikian, Lame mengingatkan bahwa strategi substitusi tidak selalu mudah. Bawang putih, misalnya, belum memiliki komoditas pengganti yang setara dari produksi dalam negeri. Sementara itu, harga daging lokal sudah teranjur tinggi karena rendemen karkasnya hanya sekitar 45 persen dari bobot hidup ternak.



Apresiasi Bantuan Kementerian Pertanian

Di sektor peternakan, INKOPPAS mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian (Kementan) yang menggelontorkan bantuan berupa subsidi pakan dan bibit ayam kepada para peternak. Langkah ini dinilai strategis untuk memangkas Harga Pokok Produksi (HPP).

“Dengan HPP atau biaya produksi yang lebih rendah, diharapkan daging ayam bisa dijual ke pasar dengan harga yang terjangkau,” tutur Lame. Ia menekankan bahwa kunci utama stabilitas pangan adalah ketersediaan stok. Jika stok di pasar menipis, harga otomatis akan kembali meroket.



Digitalisasi Pasar Jadi Solusi Jangka Panjang

Sebagai langkah strategis jangka panjang, INKOPPAS kini gencar mengakselerasi digitalisasi koperasi pedagang pasar demi menstabilkan harga dan memperkuat tata kelola keuangan. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi, salah satunya lewat rapat bersama Bank BTN.

“Kami sedang migrasi data dari manual ke digital agar data bisa dikelola dan disimpan dengan baik,” ungkap Andrian.

Program digitalisasi ini mencakup beberapa aspek utama:


1. Digitalisasi sistem simpan pinjam koperasi.

2. Penerapan transaksi nontunai (cashless) di area pasar.

3. Pengembangan platform one-stop solution untuk pengawasan harga, penyaluran KUR, pelatihan, hingga fasilitasi penjualan daring (online) bagi pedagang.

Saat ini, sudah ada tiga koperasi pedagang pasar yang menerapkan sistem digital ini, dan diharapkan akan terus meluas ke seluruh jaringan INKOPPAS. Walau begitu, Lame mengakui tantangan di lapangan masih besar, mulai dari masalah keterbatasan sinyal di area pasar hingga perlunya peningkatan literasi digital bagi para pedagang.

Meski demikian, Andrian mengakui digitalisasi pasar masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan jaringan internet, kesiapan perangkat teknologi, hingga edukasi pedagang terkait penggunaan sistem digital.

“Dengan digitalisasi, harga pangan bisa lebih mudah dipantau, distribusi bantuan lebih tepat sasaran, dan pedagang pasar bisa naik kelas mengikuti perkembangan zaman,” Pungkasnya.


@Sonny/Tajuknews.com/tjk/05/2026.

#INKOPPAS #Kementan #HargaPokokProduksi

Komentar

Berita Terkini