|

Masyarakat Adat Yobeh Dan Yahim Distrik Sentani Meminta Pemerintah " Lunasi Ganti Rugi Tanah Adat Jalur Kuning Bandar Udara Sentani"



Masyarakat Adat Yobeh dan Yahim, meminta Pemerintah Pusat, lunasi ganti rugi tanah adat Bandara Sentani, Jayapura, Papua. Bersama mereka hadir Yohosua Pangkali (Ondofolo Besar Yahim), Yusak Pangkali ( Ketua Team), Elisa Felle (Kepala Suku) memberikan pernyataan Persnya di Jakarta, 7/6. Bahwa belum ada dari Pemerintah selesaikan hak tanah adat (jalur kuning). Trionenews.com/ Son/juni/2018.


Jakarta, Trionenews.com Bandara Sentani merupakan bandara perkembangan hasil penyelidikan bahwa Bandar Udara Sentani dibangun oleh orang-orang Jepang selama Perang Dunia ke-2 dan selanjutnya diambil alih oleh orang-orang Amerika , dan diperluas, tidak diketahui tentang apakah para pemilik tanah telah menerima suatu ganti kerugiaan untuk tanah atau tanaman pertanian.

Angkatan Udara Jepang pada waktu itu menempatkan 139 pesawat pengebom san 125 pesawat tempur dilapangan terbang Sentani.Lapangan terbang Sentani berhasil di rebut Amerika pada 22 April 1944. Dan setelah Perang Dunia ke-2, Lapangan Terbang Sentani dikuasai Belanda hingga tahun 1962, oleh Belanda dipergunakan sebagai pesawat komersil dan pesawat tempur.

"Tanah Bandara Sentani adalah tanah adat peninggalan Belanda (Besluit Van Gorveheur Van Nederlands-Nieuw Guinea Van 22 Februari 1961. No 63) yang di sebut sebagai jalur kuning, Tanah rainway 12 Bandara Sentani, "ucap Yohosua Pangkali , Ondofolo Besar Yahim pada Konferensi Pers di Jakarta, 7/6.

Yohosua Pangkali (Ondofolo Besar Yahim)



"Kami.mengurus hak kami yang selama ini dipakai Rainway 12 bandara Sentani, saya datang tidak sendiri bersama Yusak Pangkali ( Ketua Team), Elisa Felle (Kepala Suku), maka dengan perjuangan untuk meminta ganti rugi itu pada 1973, dengan catatan tandatangan saya sendiri, " tuturnya

Sejarah yang saya buka kali ini  sampai saya bertempat tinggal di Jakarta, sepanjang hari saya belum puas kepada Pemerintah yang menjanjikan saya akan selesai, "maka sekarang saya meminta kepada Pemerintah setelah ketemu perwakilan Staf Presiden, DPR, mohon tolong betikan hak saya, tolong jawabbjawab saya punya hak, untuk melepaskan akulah saya, karena disitu adalah tempat makan masyarakat saya, disitu adalah kediaman saya dalam melihat masyarakat berbondong-bondong untuk makan disitu,"ujar Yososua Pangkali dengan penuh semangat".


Yusak Pangkali (Ketua team)



"Maka dengan hadir saya hari ini, Pemerintah tolong saya sebagai manusia biasa, saya meminta ujung rambut sampai ujung jari-jari bayar hak saya".

Setelah saya pulang dari sini masyarakat menunggu kami mendengar jawaban pasti. Dan saya juga tidak mengurangi hak Pemerintah, bahwa Pemerintah adalah salah satu pemegang hak kemanusiaan , bukan hak otoriter , itu zaman kita lalu, "ujarnya.

"Saya pikir warga Indonesia ini termasuk saya anak harus dijelaskan, ditempatkan hidupkan saya yang layak",minta Yohosua.

Kami semua menunggu kesan dan pesan Pejabat Pemerintah yang pernah didatangi Kementerian Perhubungan dari Papua ke Pusat , dari Pusat ke Daerah, dan saya sudah mendatangi berbagai pihak."imbuhnya.

Yusak Pangkali, menambahkan jangan sampai ada pihak lain yang ingin mencampuri kepentingan Bandara Santani, "ucapnya.

Sebagai amanat saya untuk Pemerintah itu jangan sampai menjadi masalah yang terjadi ke depannya, karna banyak terkait dengan keadaan Bandara Sentani di Papua yaitu Pesta Pilkada, Pilpres 2019, dan diadakan PON 2020 di Papua, "pungkas Yusak Pangkali Ketua Team.

(Son).
Komentar

Berita Terkini