|

Perkuat Responsif Gender AdakanPeluncuran dan Bedah Buku Responsif Gender PTKI

"Peluncuran dan Bedah Buku Mata Kuliah yang Responsif Gender di PTKI” Menteri PPPA, Bintang Puspayoga membuka di Aula R.A Kartini Gedung Kemen PPPA Jakarta, Kamis (5/3/2020).Konstruksi gender yang bias juga masih dijumpai dalam referensi yang digunakan dalam pembelajaran, metode yang diterapkan, ataupun elaborasi pemahaman yang disampaikan dalam proses pembelajaran. Guffee/Tajuknews.com/tjk@Mar/2020.



TAJUKNEWS.COM, Jakarta - Dimensi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan merupakan isu multi dimensi pada seluruh aspek kehidupan manusia. Harus diakui pendidikan merupakan ruang yang strategis dalam membangun kualltas manusia terutaman perempuan sehingga berdampak positif pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, Indeks Pemberdayaan Gender, dan Indeks Pembangunan Gender Indonesia

Untuk menciptakan studi akademik yang setara gender, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerjasama dengan Kementerian Agama dan sejumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) melakukan “Peluncuran dan Bedah Buku Mata Kuliah yang Responsif Gender di PTKI”.

Menteri PPPA, Bintang Puspayoga di hadapan sejumlah perwakilan PTKI dan unsur pemerintah mengatakan, Nilai-nilai kurang responsif gender masih dapat ditemui dalam proses belajar mengajar di kampus. Konstruksi gender yang bias juga masih dijumpai dalam referensi yang digunakan dalam pembelajaran, metode yang diterapkan, ataupun elaborasi pemahaman yang disampaikan dalam proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada cara pandang, sikap, dan pengambilan keputusan mahasiswa. Bertempat di Aula R.A Kartini Gedung Kemen PPPA Jakarta, Kamis (5/3/2020).

"Peluncuran dan Bedah Buku Mata Kuliah yang Responsif Gender di PTKI” Menteri PPPA, Bintang Puspayoga membuka di Aula R.A Kartini Gedung Kemen PPPA Jakarta, Kamis (5/3/2020).Konstruksi gender yang bias juga masih dijumpai dalam referensi yang digunakan dalam pembelajaran, metode yang diterapkan, ataupun elaborasi pemahaman yang disampaikan dalam proses pembelajaran. Guffee/Tajuknews.com/tjk@Mar/2020.


“Penyusunan bahan ajar yang responsif gender diharapkan mampu membentuk pola pikir yang mampu membentuk tingkah laku keseharian yang non-diskriminatif, adil, setara, serta memperhatikan aspek kebutuhan laki-laki dan perempuan,” ujar Menteri Bintang.

Isu gender bidang pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek utama yaitu aspek pada pendidikan baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi; Partisipasi dan pengalaman belajar selama menempuh pendidikan; Lulusan ataupun keluaran pendidikan kualitas dan daya saing lulusan.

Kontruksi gender yang bias masih dijumpai dalam referensi yang digunakan dalam pembelajaran, metode yang diterapkan, ataupun elaborasi pemahaman yang dismpaikan dalam proses pembelajaran.

Hal tersebut berdampak pada cara pandang, orientasi, sikap, dan pengambilan keputusan mahasiswa baik laki-laki maupun perempuan yang nantinya akan berpengaruh secara signifikan terhadap capaian pembangunan di Indonesia.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut perlu dilakukan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang berkeadilan dan berkesetaraan gender salah satunya bahan ajar yang responsif gender.

Penyusunan bahan ajar yang responsif gender diharapkan mampu membentuk pola pikir yang mampu membentuk tingkah laku kesehariannyang non diskriminatif, adil, serta memperhatikan kebutuhan laki-laki dan perempuan.

Perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam pengarusutamaan gender seperti PTKI.

Menteri Puspa menyampaikan terimakasih dan memberikan apresiasi yang tinggi atas kerjasama yang sudah terjalin antara Kemen PPPA bersama PTKI dalam menyediakan bahan ajar mata kukian yang berspektif gender.

Saya berharap kerjasama ini tidak hanya berhenti pada lahirnya buku-buku yang responsif gender yang launching pada hari ini namun dapat menjadi gerakan awal dalam mewujudkan komitmen bersama pengarusutamaan gender pada ranah pendidikan tinggi di Indonesia.

Besar harapan saya bahwa buku ini dapat membantu seluruh sivitas akademika baik pengajar maupun mahasisiwa untuk dapat lebih memahami dan menginternalisasi nilai-nilai penting kesetaraan gender dan dapat menulatlrkannya lebih lanjut pada masyarakat luas.

Saya berharap buku-buku mata kuliah respinsif gender akan terus hadir secara masiv dan diseluruh di PTKI yang ada di Indonesia.

Kedepan jangan ada lagi diskriminasi, jangan ada lagi kekerasan terhadap apa yang menimpa peremouan hanya karena dia perempuan.

Semua ini menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama untuk mewujudkan perempuan berdaya Indonesia maju.

Kepala Sub Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Suwendi mengatakan, persoalan gender juga dipengaruhi karena masih banyaknya teks-teks materi pelajaran bias gender pada pengalaman pendidikan kita sebelumnya.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, perlunya upaya peningkatan kualitas pendidikan yang berkeadilan dan berkesetaraan gender. Salah satunya melalui penyusunan bahan ajar yang responsif gender.

Buku mata kuliah responsif gender yang diluncurkan sarat dengan pengetahuan, keterampilan disertai contoh baik (best practice) yang responsif gender. Adapun Judul Buku Mata Kuliah Responsif Gender yang diluncurkan di antaranya Ilmu Dakwah, Fiquh dan Ushul Fiqh, Bahasa Indonesia, Relasi Gender dalam Agama-Agama, Gender dan Pembangunan, Fiqih An-Nisa, Hukum Perkawinan Islam Indonesia, Pancasila, Hukum Pidana Islam, Studi Alquran, dan Sejarah Peradaban Islam. Buku mata kuliah ini juga telah diterpakan di tiga PTKI, diantaranya UIN Jakarta, UIN Surabaya, dan UIN Mataram.

Ahli bidang Hukum Keluarga Islam Perspektif Gender sekaligus Dosen UIN Jakarta, Musdah Mulia mengatakan, mewujudkan keadilan gender adalah persoalan kolektif. Oleh karenanya, kita dapat melakukan upaya rekonstruksi budaya, dalam hal ini melalui pendidikan.

“Tugas dosen bukanlah mengindoktrinasi, namun mengajarkan keilmuan, yakni proses dialektika dan analisis sosial. Tugas dosen adalah mencerdaskan kehidupan intelektual, emosional, dan spiritual peserta didik. Jadi kita bukan pendakwah. Peluncuran buku ini adalah kerja intelektual dan langkah awal untuk membangun perpektif gender dan merupakan langkah yang progresif,” terang Musdah.

Selain meresmikan Peluncuran Buku Mata Kuliah yang Responsif Gender, juga menyaksikan Bedah Buku yang diluncurkan.

(Guffe/Tajuknews.com/tjk@Mar/2020).
Komentar

Berita Terkini