|

Jeritan Pengemudi Bajaj Efek Covid-19 Pendapatan Menurun

Pendapatan Gofir (36) tiap hati kian mencekik, alih-alih untuk setoran bajaj kebutuhan makan anak istri tidak memadai, di Duren Sawit, Jakarta, /08/04/2020. kesulitan ekonomi kian dirasakan selama masyarakat dibatasi untuk berpergian keluar rumah. Foto; Dikdol/ Tajuknews.com/tjk@/04/2020.


TAJUKNEWS.COM, Jakarta. - Jerit suara hati pengemudi bajaj di DKI Jakarta yang sulit memperoleh penumpang ditengah-tengah pandemi Covid-19 atau Korona. Pendapatan Gofir (36) tiap hati kian mencekik, alih-alih untuk setoran bajaj kebutuhan makan anak istri tidak memadai. 

Ia menjelaskan, kesulitan ekonomi kian dirasakan selama masyarakat dibatasi untuk berpergian keluar rumah. Tak kala Gofir kerap cekcok mulut dengan isteri dan anak-anaknya sesampai di rumah kontrakan disebabkan tidak memperoleh uang. 

" Pendapatannya nol sama sekali tidak ada pendapatan. Paling dapat buat makan-makan doang saja, setoran kadang-kadang kurang sama anak istri saja ribut terus gitu kan anak istri harus makan," tutur pria yang memiliki anak dua, Rabu (8/4/2020). 

" Karena nariknya begini terus nggak tahu nih, anak dua , istri nggak kerja ngandelin narik bajaj," sambungnya. 

Lebih lanjut, dia memaparkan saat ini masyarakat enggan keluar rumah. Terlebih himbauan telah menyebar melalui berbagai media dan akan menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta. 

" Masyarakat takut tertular kali hari ini baru satu orang saja dari pagi. Pengennya kalau bisa pemerintah mengerti masyarakat kecil gitu. Saya belum merasakan (bantuan pemerintah) dan saya juga belum tahu (informasi)," ungkap dia.

Tidak hanya mangkal di sekitar Mall Ciplaz Klender, Gofir pun mutar keliling tempat-tempat pusat keramaian publik seperti terminal dan stasiun. Namun kata dia, upaya keliling untuk mencari penumpang saat ini dinilai sulit dan waktu menanti penumpang sia-sia karena masyarakat merasa takut dengan penyebaran virus Korona. 

" Sudah sekitar 3 mingguan setoran tidak ada terus. Kadang-kadang di Terminal Kampung Melayu kadang-kadang di stasiun Jatinegara sama semua tukang bajaj ngeluh semua. Pokoknya nggak sopir bajaj orang jualan sepi semua sampai saat ini setoran kami belum dapat juga," keluh pria dengan nada pesimis. 

Secara terpisah, Maslahudin (40) pun menuturkan hal senada sulitnya mencari penumpang dan uang dikantong habis hanya menanti penumpang yang tak kunjung tiba. 

Menurut juru kemudi bajaj berbahan bakar BBG itu, dirinya keluar rumah mulai pagi hari hingga petang baru mendapatkan satu orang penumpang. Dia juga merincikan dalam satu pekan terakhir belum bisa membayar setoran bajaj. 

" Dapat penumpang 1 orang. orang takut karena virus itu jadi orang takut-lah begitu kita penghasilan kurang dan bajaj harus setor. Dalam satu minggu ini belum ada pemasukan setoran saja saya masih kurang," ujar Udin.  

Pengemudi bajaj berwarna biru tersebut mengharapkan pemerintah melihat kondisi seperti ini dapat mengambil langkah bijak. Udin mengatakan, pemerintah dalam kondisi darurat Covid-19 lebih memperhatikan masyarakat kecil terutama sopir bajaj. 

' Yang saya ingin sampaikan kepada pemerintah ini inginnya saya pemerintah memperhatikan masyarakat kecil. Gimana sih kalau orang kecil kalau ngomong apa saja juga salah kalau ngomong ini itu salah," beber pria yang tinggal di Pondok Bambu, Durensawit, Jakarta Timur. 

Dia melanjutkan, dalam kondisi yang tidak memungkinkan maka istri maupun kedua anak dia dipulangkan ke kampung halamannya di Pemalang Jawa Tengah. Selama 20 tahun hidup di Jakarta, Udin tak pernah tersentuh bantuan dari pemerintah. 

" Bantuan pemerintah itu kurang jelas, selama di sini saya belum pernah dapat bantuan ada 20 tahun belum pernah dapat bantuan. Istri dan anak alhamdulillah sekarang bantu-bantu usaha di kampung," tandasnya. 

Hal tersebut, diutarakan dia karena dalam beberapa pekan terakhir hasil dari jasa bajaj tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga bulan April 2020 ini, Udin merasa bingung sebab pemilik kontrakan sudah menegur dia.  

" Saat ini pendapatan merosot buat makan saja kurang apalagi buat bayar kontrakan. Bayar kontrakan saja sudah mulai ditagih sebulan Rp 400 ribu saya ngontrak di Pondok Bambu," terangnya.

Sonny/Tajuknews.com/tjk@/04/2020.
Komentar

Berita Terkini