|

Ekonom Nilai Boikot Produk Prancis Rugikan Ekonomi Indonesia

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI)  menyuarakan Indonesia dinilai ekonom justru akan merugikan Indonesia sendiri. Sebab, sejumlah merek tersebut merupakan produk lokal Indonesia dan  menampung ribuan tenaga kerja Indonesia. ©Sonny/Tajuknews.com/tjk/11/2020.

 

TAJUKNEWS.COM, Jakarta. - Seruan boikot terhadap produk Prancis seperti yang  disuarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dinilai ekonom justru akan merugikan Indonesia sendiri. Sebab, sejumlah merek tersebut merupakan produk lokal Indonesia dan  menampung ribuan tenaga kerja Indonesia. Aksi boikot justru akan menimbulkan gelombang PHK. 


“Untuk produk-produk yang langsung dikirim dari Perancis, ya silakan saja. Tapi untuk sehari-hari,  produk yang di produksi di dalam negeri, akan sangat berdampak bagi pekerja kita.  Untuk investasi seperti itu jangan di boikot, karena akan mempengaruhi kondisi perekonomian dalam negeri,  ” jelas Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati. 


Selain itu, nilai impor Prancis ke Indonesia sangat kecil jika dibandingkan dengan negara China, Amerika, Australia, dan India. Komoditas impor terbesar dari Prancis adalah pesawat dan komponennya. Sementara produk makanan dan barang mewah seperti tas, kebanyakan produksinya sudah dibuat di dalam negeri.


Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang Januari-Juli 2020, nilai total impor dari Prancis ke Indonesia mencapai US$ 682 juta atau sekitar Rp9,9 triliun, turun 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Untuk produk-produk yang sifatnya lifestyle hanya merek saja, tapi produksinya di Indonesia. Jadi tidak signifikan buat Indonesia dan Prancis karena porsinya enggak besar," jelas Enny.


"Kalau Prancis perkiraan saya paling impornya tidak sampai 5%. Berbeda seperti China sampai 33%."

Selain itu harga komoditas buatan Prancis terbilang mahal dan konsumennya kebanyakan kelompok menengah ke atas. Golongan ini, kata Enny, relatif teredukasi dan tak terpengaruh dengan apa yang terjadi di Prancis.


Berbeda hal jika kebijakan boikot dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Kalau kebijakan itu yang diambil seperti Turki maka pasti sangat berpengaruh, pungkas Enny.

©Sonny/Tajuknews.com/tjk/11/2020.


Komentar

Berita Terkini