|

Minta Mundur, Asaki Belum Siap Terapkan Zero ODOL Pada 2023

 

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyatakan masih belum siap untuk menjalankan Zero ODOL (Over Dimension Over Load) pada awal tahun 2023 mendatang, di Jakarta, 06/12/2021. saki meminta atensi dan dukungan pemerintah agar kebijakan Zero ODOL yang rencananya diterapkan di 2023 untuk ditunda sampai kondisi industri keramik pulih kembali akibat pandemi Covid-19 dan perekonomian nasional membaik kembali. @Sonny/Tajuknews.com/tjk/12.2021.


TAJUKNEWS.COM, Jakarta. - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyatakan masih belum siap untuk menjalankan Zero ODOL (Over Dimension Over Load) pada awal tahun 2023 mendatang.  Karenanya, Asaki meminta agar pelaksanaannya bisa ditunda sampai kondisi industri pulih kembali dari keterpurukan yang dialami akibat pandemi Covid-19. 


“Asaki meminta atensi dan dukungan pemerintah agar kebijakan Zero ODOL yang rencananya diterapkan di 2023 untuk ditunda sampai kondisi industri keramik pulih kembali akibat pandemi Covid-19 dan perekonomian nasional membaik kembali,” ujar Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto.


Dia memastikan dengan kondisi industri keramik saat ini, jika Zero ODOL diterapkan pada tahun 2023, bisa berdampak negatif terhadap kemampuan daya saing industri, terutama dari gempuran produk impor dari China, India, dan Vietnam yang trennya mengalami peningkatan setiap tahunnya.


Kata Edy, Asaki memandang bahwa JBI (Jumlah Berat Diijinkan) perlu ditinjau ulang. Hal itu mengingat actual berat muatan saat ini dibandingkan dengan muatan sesuai JBI memiliki selisih yang sangat besar. 


Dia mengatakan penyesuaian muatan sesuai Zero ODOL akan menyebabkan penurunan muatan hingga 70%, dan akan menyebabkan kenaikan biaya pengangkutan/ekspedisi sampai dengan 200%. “Sebagai konsekuensinya, industri keramik membutuhkan tambahan armada truk hampir 12.000 unit,” ucapnya.


Edy menuturkan industri keramik tetap mendukung kebijakan Zero ODOL ini. Hal itu terbukti dari beberapa persiapan yang sudah dilakukan. Di antaranya, Asaki tengah melakukan riset dan pengembangan formulasi bahan baku untuk mencoba pengurangan ketebalan body keramik. “Namun, ternyata itu tidak banyak mengurangi berat keramik secara keseluruhan,” tukasnya. 

Sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Pupuk Indonesia (APPI) juga meminta agar pelaksanaan kebijakan Zero ODOL dilakukan secara bertahap. Hal itu untuk memberi kesempatan bagi industri untuk melakukan negosiasi dengan pihak-pihak terkait guna mengurangi beban biaya yang dikeluarkan akibat Zero ODOL ini.


Sekjen APPI,  Achmad Tossin Sutawikara, mengutarakan kebijakan Zero ODOL ini otomatis akan menambah jumlah perjalanan truk dalam mengangkut kuantum yang sama. Dia menyebut dari jumlah alokasi pupuk yang menjadi kewajiban Pupuk Indonesia sebanyak 9,04 juta ton, saat ini diangkut oleh 361.600 perjalanan (rit).  “Tapi, dengan kebijakan Zero ODOL, angkutan truk diperkirakan akan menjadi 502.222 rit,” tuturnya.


Karenanya, dia meminta agar pemerintah memberikan waktu kepada produsen untuk bernegosiasi dengan perusahaan jasa angkutan pupuk industri agar mau menurunkan tarifnya. “Kami memahami bahwa penerapan Zero ODOL ini memang baik, terutama untuk mengutamakan keselamatan angkutan di jalan raya. Tapi kami perlu waktu untuk menemukan jalan keluar ke pihak perusahaan jasa angkutan agar mereka mau menurunkan tarifnya , sekaligus kami juga tetap menjaga agar kebutuhan pupuk nasional dapat tetap terpenuhi,” tukasnya.


Karena, menurut Tossin, Zero ODOL ini tentu akan meningkatkan biaya angkutan. Namun, karena pengiriman ke petani harus tetap dijaga, maka peningkatan biaya itu harus bisa dibuat seminimal mungkin. “Ini yang perlu disepakati dan dipahami bersama antara produsen dan jasa angkutan. Dan ini kita masih proses, tapi mengarah ke pelaksanaan Zero ODOL. Makanya, kami meminta agar pemberlakuan Zero ODOL pun bisa dilakukan secara bertahap untuk memberikan relaksasi kepada semua pihak,” ucapnya.

@Sonny/Tajuknews.com/tjk/12/2021.

Komentar

Berita Terkini