|

IKLAN BANNER

IKLAN BANNER
AYO INDONESIA BANGKIT, " PULIH LEBIH CEPAT BANGKIT LEBIH KUAT"

Hadirnya Negara G20 Mengupas Hubungan Rusia , Amerika dan Uni Eropa

Negara-negara telah bersiap mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 akan dimulai pada Selasa-Rabu (15-16/11/2022) di Nusa Dua, Bali. Puluhan pimpinan negara dari G-20 pun akan duduk bersama di tengah banyaknya friksi dan ketegangan di antara mereka sendiri. @Sonny/tajuknews.com/tjk/11/2022.

TAJUKNEWS.COM, JAKARTA. - Perang Rusia-Ukraina, lonjakan harga minyak, persoalan gas di Eropa, persoalan Taiwan, dan saling tuding pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) membuat pertemuan G-20 ini akan berlangsung tidak biasa.

Kendati tahun ini KTT G-20 mengusung tema kebersamaan Recover Together, Recover Stronger, semua pasti mahfum jika KTT G-20 tahun ini digelar di tengah suasana yang jauh dari nuansa harmonis.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 akan dimulai pada Selasa-Rabu (15-16/11/2022) di Nusa Dua, Bali. Puluhan pimpinan negara dari G-20 pun akan duduk bersama di tengah banyaknya friksi dan ketegangan di antara mereka sendiri.



Dari anggota G-20 saat ini, Rusia kini tengah menjadi "musuh bersama". Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa adalah negara yang dengan lantang menyuarakan protes invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Protes ini berujung pada sanksi ekonomi hingga larangan terbang. Salah satunya adalah keputusan Jepang dan Uni Eropa yang menghentikan impor batu bara dari Rusia pada Agustus lalu.

Rusia dan Uni Eropa juga bersitegang dalam soal pengadaan gas. Rusia memangkas untuk kemudian menghentikan total pasokan gas ke Uni Eropa melalui jaringan Nord Stream 1 yang membuat kawasan ekonomi tersebut kelabakan.

Kelompok G-20 sendiri terdiri dari 27 negara yang tergabung dalam Uni Eropa, Amerika Serikat (AS) dan China, Afrika Selatan, Argentina, Arab Saudi, Australia, India, Brasil, Inggris, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Meksiko, Kanada, Republik Korea, Perancis, Rusia, Tiongkok, dan Turki.


Hubungan Uni Eropa dan Rusia juga mendidih setelah jaringan gas Nord Stream 1 yang sempat meledak meledak pada akhir September. Isu sabotase muncul di tengah ledakan pipa tersebut.

Harga gas alam Eropa melonjak tajam, tagihan listrik melesat, dan sejumlah negara terpaksa mengambil kebijakan tidak populer. Salah satunya adalah dengan menghidupkan kembali pembangkit listrik batu bara.

Lonjakan harga energi juga membuat Jerman terpaksa merogoh anggaran hingga 27,5 miliar euro untuk meredam dampak kenaikan harga gas. Inggris juga menggelontorkan anggaran subsidi energi sebesar Rp 2.751 triliun.


Rusia ogah memasok kembali gas ke Uni Eropa selama sanksi ekonomi kepada Negara Beruang Merah belum dicabut. Sebaliknya, Uni Eropa tetap bersikukuh kepada sanksi. Rusia juga tentu saja dimusuhi AS karena Negara Paman Sam melihat invasi Rusia ke Ukraina illegal.

"Sebelumnya masalah siapa yang akan hadir di G-20 sebetulnya tidak menjadi polemik. Namun, khusus tahun ini, masalah kehadiran pemimpin dunia menjadi isu yang sangat politis karena invasi Rusia ke Ukraina," tutur Mantan Duta Besar RI untuk AS Dino Patti Djalal, dalam saluran Youtube Sekretariat FPCI.

Presiden AS Joe Biden bahkan sudah menegaskan jika dia tidak sudi bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Meruncingnya ketegangan Dunia Barat dengan Rusia bahkan membuat kehadiran Putin di Bali menjadi isu politik yang sangat besar.


@Sonny/Tajuknews/com/tjk/11/2022.


Komentar

Berita Terkini