|

IKLAN BANNER

IKLAN BANNER
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum, Mohon Maaf Lahir dan Bathin, Selamat idul Fitri 1443H

Hadapi Ancaman Pemanasan Global Pemerintah Ajukan di Green Economy Indonesia Summit 2022 H

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Green Economy Indonesia Summit 2022, Rabu (11/5/22). Climate economic index itu juga menunjukan, Indonesia adalah yang sangat rentan masuk dalam musim kemarau nanti. Risiko kebakaran hutan kembali mengintip ataupun perlu kita waspadai. @Sonny/Tajuknews.com/tjk/05/2022.



TAJUKNEWS.COM, Jakarta. - Beberapa hari ini masyarakat merasakan suhu udara terasa sangat terik dan panas, gelombang panas sudah dirasakan di beberapa negara-negara, ini memberikan dampak lingkungan yang semakin dirasakan oleh mahluk bumi.


Usai pandemi Covid-19, pemerintah kini mewaspadai ancama lain dalam bentuk pemanasan global. Sejumlah negara melalui Paris Agreement telah bersepakat, cuaca yang kian panas berisiko tinggi membuat terjadinya kebakaran hutan, hingga mengancam sektor perekonomian.


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Green Economy Indonesia Summit 2022, Rabu (11/5/22) mengatakan," Asia Tenggara merupakan salah satu daerah atau regional yang berisiko tinggi terhadap pemanasan global".


" Climate economic index itu juga menunjukan, Indonesia adalah yang sangat rentan masuk dalam musim kemarau nanti. Risiko kebakaran hutan kembali mengintip ataupun perlu kita waspadai," ujar Airlangga.


Pemerintah lewat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) disebutnya juga sudah melakukan berbagai persiapan. Terutama kesiapan untuk menghadapi risiko kebakaran hutan.


"Sebetulnya ini sama seperti menghadapi pandemi. Jadi kita sebetulnya punya tentara untuk kebakaran hutan, dan juga punya tentara untuk penanganan pandemi. Ini kan satu hal sama yang dilakukan," terangnya.


Menko Airlangga menambahkan," kesadaran akan dampak perubahan iklim harus terus dijaga, baik dari segi kesiapan maupun pendanaan".


"Sebelumnya juga kita tahu, dunia enggak punya pemadam kebakaran di tahun 1930an. Tapi dengan risiko yang ada, sekarang seluruhnya punya pemadam kebakaran," kata Menko Airlangga.


Penjelasan BMKG soal Cuaca Terik di Indonesia


Masyarakat di beberapa wilayah Indonesia merasakan panas terik akhir-akhir ini. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap suhu maksimum selama periode 1-7 Mei 2022 berkisar antara 33 - 36.1 °C dengan suhu maksimum tertinggi hingga 36.1 °C terjadi di wilayah Tangerang-Banten dan Kalimarau-Kalimantan Utara.


Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto senin ( 9/5/22) mengatakan,"  kondisi suhu terik di wilayah Indonesia harus diwaspadai hingga pertengahan Mei".


“Kewaspadaan kondisi suhu panas terik pada siang hari masih harus diwaspadai hingga pertengahan Mei,” ujar  Guswanto.


Fenomena suhu udara terik yang terjadi pada siang hari, kata Guswanto, dipicu oleh beberapa hal. Pertama, posisi semu matahari saat ini sudah berada di wilayah utara ekuator yang mengindikasikan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau, di mana tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujannya akan sangat berkurang.


“Sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi,” cetusnya.


Kedua, dominasi cuaca yang cerah dan tingkat perawanan yang rendah tersebut dapat mengoptimumkan penerimaan sinar matahari di permukaan Bumi, sehingga menyebabkan kondisi suhu yang dirasakan oleh masyarakat menjadi cukup terik pada siang hari.


Bukan Gelombang Panas Ketiga, panas terik yang terjadi di wilayah Indonesia bukan fenomena Gelombang Panas.


“Menurut WMO (World Meteorological Organization), Gelombang Panas atau heatwave merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut di mana suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5°C atau lebih,” terang Guswanto.


Fenomena gelombang panas, lanjut Guswanto, biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika yang dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di lintang menengah. “Sedangkan yang terjadi di wilayah Indonesia adalah fenomena kondisi suhu panas/terik dalam skala variabilitas harian,” imbuhnya.


Oleh karena itu BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga kondisi stamina tubuh dan kecukupan cairan tubuh terutama bagi warga yang beraktifitas di luar ruangan pada siang hari.


“Juga kepada warga yang akan melaksanakan perjalanan mudik atau mudik balik supaya tidak terjadi dehidrasi, kelelahan dan dampak buruk lainnya," pungkas Guswanto.

@Sonny/Tajuknews.com/tjk/05/2022.

Komentar

Berita Terkini