|

Dr. Siti Fadilah Sampaikan Rasa Prihatin Surati Presiden Jokowi

Eks Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari menyurati Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dari balik jeruji penjara,di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Senin (27/4/2020).Dia pun memberikan solusi yang diharapkan bisa diterapkan untuk menanggulangi virus tersebut. Sonny/Tajuknews.com/tjk@/04/2020.


TAJUKNEWS.COM, Jakarta. - Eks Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari menyurati Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dari balik jeruji penjara, Siti dalam suratnya manyampaikan rasa prihatin terhadap kondisi Indonesia yang tengah diterjang wabah pandemi Virus Corona atau Covid-19.
Dia pun memberikan solusi yang diharapkan bisa diterapkan untuk menanggulangi virus tersebut.
"Menurunkan penularan akan efektif bila pertama-tama dilakukan screening massal serentak. Kalau tidak bisa semua wilayah, kita bisa memilih daerah dengan zona merah saja," tulis Siti dalam suratnya di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Senin (27/4/2020).
Di zona merah itu, sambung Siti, perlu dilakukan deteksi dengan screening massal serentak, mencari mana yang positif dan mana yang negatif. Kemudian, pisahkan yang positif karena dari yang positif ini ada yang simptomatik atau bergejala dan ada 90 persen yang asimptomatik atau tidak bergejala.

"Inilah kemudian bisa menularkan ke orang lain. Setelah jelas terpilah, maka bisa dilakukan PSBB dengan aman. Tapi, kalau belum dilakukan screening maka kemungkinan terjadi penularan di area PSBB masih sangat mungkin," katanya.
Menurut Siti, kalau angka penularan menurun, maka otomatis angka kematian juga akan ikut turun. Screening massal serentak pada zona merah Covid-19 menjadi hal yang sangat penting. Untuk itu, dibutuhkan alat rapid test yang sensitif dan falsenegatifnya rendah.
"Sebaiknya rapid test yang digunakan adalah yang molecular base. Agar tidak buang waktu dan biaya karena harus tes berulang-ulang, sementara penyebaran berlanjut," ujarnya.
Primer atau reagen pada PCR untuk mendeteksi virus sebaiknya menggunakan primer atau reagen yang kita buat sendiri berasal dari virus Corona strain Indonesia, agar deteksinya lebih valid, ketimbang pakai yang dari luar yang belum tentu cocok dengan virus yang ditemukan di Indonesia. BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) telah mulai melakukan ini.
"Pak Jokowi yang baik, jangan biarkan rakyat kita menangis. Perintah bapak untuk segera memenuhi kebutuhan dasar bagi rakyat di dalam wilayah PSBB sudah sangat jelas. Namun, di tingkat bawah saat ini masih belum bisa merasakan kebijakan tersebut," katanya.
Dia mengaku mendengar bantuan sosial belum diterima sebagian besar rakyat Indonesia. Padahal, rakyat Indonesia sudah lebih sebulan harus tinggal di rumah dan tidak bekerja sebulan sebelum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan.

"Mohon maaf pak, rakyat kita butuh kerja hanya untuk bisa makan setiap hari. Sementara itu sampai saat ini dapur-dapur umum belum serius di dirikan oleh para lurah dan kepala desa," katanya.
Demikian halnya dengan rumah-rumah karantina buat ODP dan PDP yang seharusnya sudah ada ditingkatan desa dan kelurahan," katanya.
Kesehatan juga punya bidan-bidan desa yang baru jadi CPNS beberapa waktu lalu. Mereka punya jadwal rutin Posyandu. Mereka juga sudah biasa door to door memeriksa kesehatan rakyat di desa. Bidan desa dan posyandu bisa jadi salah satu ujung tombak monitoring dan evaluasi maupun untuk screening.
"Pak Jokowi yang baik, pada bapaklah kami semua rakyat Indonesia menggantungkan keselamatan masa depan bangsa dan negara ini. Semoga kita bisa secepatnya menang dari wabah Corona. Jangan ragu dan tetaplah yakin Allah SWT akan menolong kita semua," katanya.
Berikut Surat Lengkap Siti Fadilah Supari:

waktu lalu. Mereka punya jadwal rutin Posyandu. Mereka juga sudah biasa door to door memeriksa kesehatan rakyat di desa. Bidan desa dan posyandu bisa jadi salah satu ujung tombak monitoring dan evaluasi maupun untuk screening.
"Pak Jokowi yang baik, pada bapaklah kami semua rakyat Indonesia menggantungkan keselamatan masa depan bangsa dan negara ini. Semoga kita bisa secepatnya menang dari wabah Corona. Jangan ragu dan tetaplah yakin Allah SWT akan menolong kita semua," katanya.

Berikut Surat Lengkap Siti Fadilah Supari:
Pak Jokowi yang terhormat,
 
Bersama surat ini saya dari dalam penjara, ijinkanlah menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap bangsa kita yang sedang menghadapi wabah Corona ini.

Lewat surat ini juga, ijinkan saya menyampaikan beberapa masukan usulan beberapa hal yang sederhana saja,-- untuk memperkuat kebijakan bapak yang sudah bapak tetapkan dalam mengatasi wabah Corona ini.
Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih kepada bapak atas pendirian bapak tidak serta merta menetapkan Situasi Darurat Nasional dan tidak memberlakukan Lock Down seperti yang dilakukan di beberapa negara lain. Itu keputusan yang bijaksana untuk rakyat dan bangsa Indonesia.
Saat ini tujuan kita yang utama adalah menghentikan penularan wabah Corona sehingga dapat menurunkan angka kematian.
Mohon maaf pak,-- untuk itu kita membutuhkan alat rapid test yang sensitif dan falsenegatifnya rendah. Sebaiknya rapid test yang digunakan adalah yang molecular base. Agar tidak buang waktu dan biaya karena harus tes berulang-ulang, sementara penyebaran berlanjut.
Primer atau reagen pada PCR untuk mendeteksi virus sebaiknya menggunakan primer atau reagen yang kita buat sendiri berasal dari virus Corona strain Indonesia, agar deteksinya lebih valid, ketimbang pakai yang dari luar yang belum tentu cocok dengan virus yang ditemukan di Indonesia. BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) telah mulai melakukan ini.

Pak Jokowi yang baik, jangan biarkan rakyat kita menangis. Perintah bapak untuk segera memenuhi kebutuhan dasar bagi rakyat di dalam wilayah PSBB sudah sangat jelas. Namun di tingkat bawah saat ini masih belum bisa merasakan kebijakan tersebut. Saya dengar bantuan sosial belum diterima sebagian besar rakyat kita. Padahal rakyat sudah lebih sebulan harus tinggal di rumah dan tidak bekerja sebulan sebelum PSBB diberlakukan.
Mohon maaf pak, rakyat kita butuh kerja hanya untuk bisa makan setiap hari. Sementara itu sampai saat ini dapur-dapur umum belum serius di dirikan oleh para lurah dan kepala desa.
Dengan adanya PSBB di beberapa daerah,-- mohon sangat ada monitoring dan evaluasi di daerah-daeah tersebut,--apakah kebijakan pak Presiden soal bantuan sosial sudah sampai pada rakyat yang membutuhkan? Apakah dapur-dapur umum sudah berdiri disetiap kelurahan dan desa?
Demikian halnya dengan rumah-rumah karantina buat ODP dan PDP yang seharusnya sudah ada ditingkatan desa dan kelurahan.
Oh iya pak, setahu saya Kementerian Kesehatan punya bidan-bidan desa yang barusan jadi CPNS beberapa waktu lalu. Mereka punya jadwal rutin Posyandu. Mereka juga sudah biasa door to door memeriksa kesehatan rakyat di desa. Bidan desa dan posyandu bisa jadi salah satu ujung tombak monitoring dan evaluasi maupun untuk screening.

©Sonny/Tajuknews.com/tjk@/04/2020.
 
Komentar

Berita Terkini